Rekoleksi Sinode Para Uskup Paroki Santo Herkulanus-Depok Jaya

Loading

Paroki Santo Herkulanus-Depok Jaya pada hari ini menjadi paroki pertama di Dekanat Utara yang menyelenggarakan rekoleksi dalam rangkaian perhelatan Sinode Para Uskup di tingkat Keuskupan Bogor. Digelar pada hari Minggu, 6 Februari 2022, kegiatan dihadiri sekitar 52 orang peserta dan sebelum memasuki area tempat rekoleksi, seluruh pihak yang hadir dan terlibat melakukan tes antigen terlebih dahulu.

Dalam sambutan pembuka yang disampaikan oleh Pastor Paroki Herkulanus yaitu RD Yosep Sirilus Natet, Ia berharap agar semua yang hadir dalam rekoleksi sinode hari ini semakin menjadi garam dan terang serta menemukan kepastian akan berbagai macam hal. Ia pun berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam rekoleksi sinode pada hari ini. 

“Semoga apa yang diharapkan bersama terpenuhi dan mampu menjadikan kita garam, terang, serta menemukan kepastian akan berbagai macam hal terutama hal-hal yang harus dihindari. Terima kasih kepada semua yang terlibat. Mari berjalan bersama agar Roh Allah berkarya dalam diri kita,” ujar Romo Natet. 

Setelah sambutan dari Pastor Paroki, kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Pembuka yang dipimpin oleh Sr Dorothea selaku tim fasilitator sinode.

Tujuan Rekoleksi

Dalam sesi pengantar, Bapak Don Bosco selaku tim fasilitator sinode memberikan penjelasan mengenai tujuan rekoleksi pada hari ini. Dalam penjelasannya, dikatakan bahwa tujuan dari rekoleksi mencakup poin-poin berikut: 

1. Menghidupkan Jalan Bersama

Dengan jalan bersama kita semakin diingatkan tentang apakah kita sudah menjadi teman seperjalanan bagi sesama.

2. Membuka Diri terhadap Roh Kudus

Dengan membuka ruang pada Roh Kudus yang berada di dalam hati, hendaknya kita meminta pertolongan boleh berjalan bersama.

3. Mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik 

Kita tidak sendirian, bahwa dengan bersama-sama kita merenungkan makna Roh Kudus agar semakin menemukan tujuan satu sama lain.

4. Menemukan Kesegaran Baru Dalam Hidup Beriman, 

Bahwa dengan pelaksanaan rekoleksi, para peserta yang hadir dapat dibaharui dan lebih segar dalam perutusan selanjutnya.

Gereja Yang Serupa Dengan Kristus 

Kegiatan dilanjutkan dengan narasi refleksi yang dibawakan oleh Ibu Yuliana Rini selaku tim fasilitator sinode. Tema narasi refleksi adalah mengenai kemanusiaan. Dalam refleksi peserta diajak untuk merenungkan mengenai Gereja yang harus serupa dengan Kristus, dan Kristus itu miskin, maka Gereja juga harus“miskin” – “Seperti Kristus melaksanakan karya keselamatan dalam kemiskinan dan penganiayaan, begitupun Gereja”. 

Jadi, Gereja sendiri harus hidup miskin seperti Kristus, dan Gereja harus mengikuti kepalanya dalam perhatian dan cinta kasihNya terhadap orang miskin. Kemiskinan Kristus adalah tanda cinta kasihNya terhadap manusia. Sikap ini harus merupakan sikap Gereja pula. Tanda bahwa Gereja adalah Gereja Kristus adalah jika pewartaan Gereja itu berpusat pada orang miskin dan kecil. Kemiskinan Gereja berarti Gereja bersama dengan Kristus menyatukan diri dengan orang miskin yang oleh Kristus disebut “saudaraKu” Cinta Kasih Allah terhadap orang kecil dan miskin adalah salah satu ciri inti dalam pewartaan Yesus. Allah mencintai semua orang, terlebih mereka yang kecil, miskin dan lemah. Cinta Kasih itu tidak lepas dari kenyataan bahwa orang kecil dan miskin itu senantiasa menjadi korban para penguasa dan orang kaya (Lk 1: 51-54).

Begitu banyak hal dan peristiwa yang terjadi di dunia saat ini, bahkan di sekitar kita yang menyebabkan kemiskinan. Bahkan Pandemi Covid yang baru saja terjadi juga menjadi sebab dari begitu banyak orang mengalami kemiskinan. Sulitnya lapangan kerja baru, semakin beratnya membuka usaha, serta sulitnya mencari akses modal menjadi beberapa dari banyak hal yang menyebabkan banyak orang menyerah pada kemiskinan. Pada kenyataan demikian, Gereja menyerukan kepada semua keluarga umat beriman untuk tidak diam, melainkan mengambil tindakan – bersolider dengan mereka yang miskin. Lebih dari itu, Gereja juga menyerukan agar umat beriman terus menerus menemani mereka yang miskin, karena “Orang Miskin akan selalu ada padamu.” (Mrk 14:7).

Termasuk di dalam seruan gereja terkait orang miskin adalah tentang semangat solidaritas dan subsidiaritas. Mereka yang mendapatkan banyak membagikannya bagi mereka yang beroleh sedikit. Mereka yang berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk melindungi yang lemah. Mereka yang lemah saling mendukung untuk saling menguatkan.

Gereja yang Solider

Gereja, sebagai keluarga umat Allah, memiliki potensi besar untuk melakukan perubahan. Gereja, bersama kuasa Roh Kudus, memiliki kemampuan untuk membangun pengharapan bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan. Oleh karenanya, setiap umat beriman diharapkan untuk memulai secara nyata, meneladan Kristus dalam keberpihakannya terhadap mereka yang lemah, miskin, dan terpinggirkan. Mulai dari diri sendiri, dan mulai dari lingkaran terdekat. Mengikuti Yesus berarti mengikuti sikap Yesus dan terutama sikap Allah sendiri, yang bersolider dengan manusia yang menderita dan berdosa. Salah satu sikap Yesus yang mencolok adalah solidaritas-Nya terhadap semua orang, terutama mereka yang sakit dan menderita, dengan pendosa, dengan mereka yang lapar, bahkan Ia solider sampai mati di kayu salib.

Kekhasan solidaritas Kristiani adalah bahwa kesetiakawanan itu kelihatan dalam sikap kita berhadapan dengan orang kecil yang miskin dan lemah, dan bukan dalam sikap kita terhadap orang kaya dan orang berkuasa. Mengapa setiakawan dengan orang kaya atau berkuasa bukan solidaritas yang diharapkan Yesus? Menurut Yesus, solidaritas yang sebenarnya kelihatan dimana kita tidak dapat mengharapkan balasan dari kebaikan kita itu. Sedangkan kesetiakawanan kita dengan orang kaya atau berkuasa selalu terbuka kemungkinan adanya balasan. Mengapa Allah berpihak kepada orang miskin dan bukan orang kaya atau orang berkuasa? Jawabannya, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat yang istimewa.

Allah berada di pihak kaum miskin sebab mereka adalah orang yang tak berdaya dan tak seorang pun yang membela mereka. Karena itu, keberpihakan kita kepada orang miskin diambil tidak berdasarkan suatu gembaran ideal mengenai orang miskin, seakan-akan pada mereka akan kita temukan segala kebajikan yang kita tidak temukan pada orang kaya dan orang berkuasa, melainkan karena kita konsekuen pada komitmen kita dengan Allah sendiri yang berpihak orang miskin.

Tidak Mudah Tetapi Harus Diperjuangkan 

Masih di dalam sesi narasi refleksi, peserta juga diajak untuk merenungkan kembali bahwa menjadi teman seperjalanan mengandaikan kemampuan diri untuk berempati dan memahami orang lain dengan penuh kesabaran dan kepedulian. Mengandaikan kesiapan hati untuk menerima kenyataan bahwa kadangkala hal yang kita rasa baik dilakukan bagi orang lain, ternyata belum tentu diterima dengan pengertian yang sama. Tidak jarang berbagai pengorbanan yang kita lakukan dengan berbagai jerih payah juga dihargai atau diperhitungkan. Menjadi “teman” bagi orang miskin atau terpinggirkan memang tidaklah mudah, tetapi tetap harus diperjuangkan oleh karena panggilan untuk berpihak kepada yang miskin adalah panggilan Gerejawi, dan bagian dari komitmen perutusan kita sebagai umat terbaptis.

Kehadiran Kita Penting Bagi Dunia

Setelah sesi narasi refleksi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi hening dan doa pribadi agar para peserta dapat merenungkan karya Allah didalam hidup serta meminta kehadiran Roh Kudus. Kemudian dilanjutkan dengan sharing berkelompok. Peserta dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari peserta usia OMK dan Dewasa kemudian diarahkan menuju ruangan terpisah agar dapat saling sharing bersama fasilitator yang hadir. 

Setelah sesi sharing, peserta kembali ke ruangan dan mendengarkan sesi peneguhan dari RD Marselinus Wisnu Wardhana. Dalam sesi ini, Romo Marsel sempat menceritakan pengalamannya ketika berkeliling ke kelompok-kelompok sharing. Ia mengatakan bahwa yang disampaikan di dalam sharing semuanya berguna dan bernilai berkat Roh Kudus karena apa yang dibagikan tersebut merupakan buah-buah permenungan bersama. 

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Keuskupan Bogor tersebut menuturkan bahwa Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk mendengarkan Roh Kudus. Tema refleksi hari ini menyadarkan kita semua bahwa kita perlu berkumpul dan melihat dunia yang dalam krisis, dunia yang berkembang sangat cepat dan dunia yang membutuhkan kita. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa kehadiran kita amat penting bagi dunia. 

“Kita adalah duta-duta kasih, perdamaian dan sukacita. Sinode menjadi sebuah peristiwa penting dan keterlibatan semua peserta yang hadir pada saat ini menjadi sebuah sejarah. Kehadiran kita, berjalan bersama, bersama berjalan, saling menopang, menjadi kunci utama perdamaian, pemenuhan tujuan bersama. Dimanapun kita berada, disitulah kesaksian tersiar. Peran umat Kristiani saling melengkapi dan saling mendukung. Memberi tanpa menilai, tanpa curiga karena dengan niat berbuat baik akan timbul rasa syukur, sukacita.

Daya beri, menolong, kepada banyak orang, berjalan bersama untuk menutupi, melengkapi, dan membantu orang lain. Bahwa ada yang mengatakan Gereja kurang memberi perhatian, perlu mengukur diri apa yang bisa kita beri kepada orang lain. Sedikit perhatian yg kita berikan pada siapa saja yg kita jumpai, membuat kita melaksanakan rahmat Allah yaitu dengan melibatkan Roh Kudus sehingga menimbulkan sukacita,” tuturnya.

Masih dalam sesi peneguhan, peserta diajak untuk semakin memaknai bahwa melalui Yesus Kristus kita ditumbuhkan kesadaran baru dan kita diingatkan kembali mengenai makna berjalan bersama. Dengan rahmat baptisan yang telah kita terima, maka kita masuk dalam persekutuan, misi, dan communio. Karya dalam hidup kita merupakan karya dari Roh Kudus yang hadir di dalam diri kita. Kehadiran kita semua di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat menjadi kekuatan Gereja karena kita dapat melakukan kebaikan dengan dilandasi oleh cinta kasih. 

Ciri khas umat Kristiani adalah menyadari bahwa hidup karena kekuatan Roh Kudus, dimana berjalan bersama tidak lebih cepat, lebih lambat, melainkan beriringan. Persekutuan umat beriman dengan bantuan Roh Kudus memuji dan memuliakan Tuhan. Mengutip perkataan dari Bunda Theresa “kita dipanggil dengan sederhana dalam perhatian pada sesama, dan Allah yang akan menyempurnakannya.”  Wajah Tuhan diperlihatkan kepada kita melalui orang-orang di sekitar kita.

Roh Kudus Yang Memampukan

Kemudian setelah sesi peneguhan diadakan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi diadakan secara konselebrasi. RD Yustinus Joned Saputra menjadi konselebran utama dan didampingi oleh RD Aloysius Tri Harjono, RD Yosep Sirilus Natet dan RD Marselinus Wisnu Wardhana. 

Dalam homili yang disampaikan oleh RD Yustinus Joned Saputra, ia mengatakan bahwa Sinode ada  berkat dorongan Roh Kudus yang menjadikan kita untuk terlibat, berbicara, saling mendengarkan dalam pertemuan dan sharing. Kita kenal banyak doa untuk menghadirkan Roh Kudus. Kita dalam doa sebelum makan dan  doa sesudah makan untuk mensyukuri atas apa yg diberikan Roh Kudus kepada kita. Roh Kudus memampukan kita untuk melihat kelemahan kita. Bacaan-bacaan yang kita dengarkan mengajak kita untuk melihat kelemahan kita,  kita bergerak bukan karena kita merasa bersih.  

Mengambil contoh dari tokoh-tokoh di Kitab Suci, Yesaya hidup dalam kekotoran, Paulus hidup dalam kejahatan, dan Petrus hidup dalam dosa. Mereka dimampukan untuk melihat kelemahan dirinya. Daya Roh Kudus memampukan kita untuk menyadari diri atas kelemahan kita. Roh Kudus terlibat dalam seluruh hidup kita untuk menghantarkan keselamatan. Kita boleh berefleksi atas kedosaan kita, tetapi kita tidak didiamkam dan dibiarkan. kita melalui Gereja didorong oleh Roh Kudus dalam kesatuan dengan Yesus Kristus yang akan membawa kita kepada jalan keselamatan.

Setelah Perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan rekoleksi sinode ditutup dengan foto bersama. 

Fr Yakobus Nurwahyudi, Fr Rein Venareal Simatupang & Maria Dwi Anggraini

Dokumentasi : Fr Yakobus Nurwahyudi & Fr Rein Venareal Simatupang

3 thoughts on “Rekoleksi Sinode Para Uskup Paroki Santo Herkulanus-Depok Jaya

  1. Dion P. Sihotang says:

    Mantap Paroki Herkulanus.
    Paroki Thomas menyusul, mungkin tertunda dari 20 Feb ke bulan Maret, karena situasi yang belakangan ini kurang kondusif. Tapi, kami yakin rencana Tuhan lebih ‘kuasa’ dari kendala apapun. Kita berdoa semoga keadaan dalam beberapa minggu ke depan akan semakin baik. Sekali lagi, selamat buat Paroki Herkulanus.

  2. Theresia M says:

    Terselenggaranya Sinode Para Uskup Paroki Santo Herkulanus Minggu,6-2-2022 sungguh luar biasa terlaksana dg baik ini semua karena kerjasama Team yg Solid.
    Tema yg sangat menarik tentang ” Kemanusiaan” pas dan cocok untuk situasi seperti sekarang saat merebaknya Covid- 19 Varian Omicron tidak memudar kita mengikuti kegiatan ini..
    Justru bersama Yesus ada semangat
    dan dapat penguatan dari empat Romo terkasih (Rm.Natet,Rm.Joned,Rm. Tri H, Rm Marselinus dan Team dari keuskupan Bogor dari masing- masing paroki membawakan Materinya kereen bingiit)dan bersyukur bisa mengikutinya sampai Akhir, ditutup dg Ekaristi. Terimakasih.

  3. MV Evi Savitri says:

    Pelaksanaan tertata dengan baik, mulai penerimaan Peserta yang langsung di swab, prokes berjalan baik, materi kemanusiaan sangat “menyentuh” hati, ini terlihat pada saat sharing kelompok kecil, dan bersyukur seperti Romo Marcell katakan kita adala communio yang bermisi, dan tidak perlu takut, karena Tuhan selalu menyertai kita umatNYA.
    Tim Keuskupan sangat ok ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks