Iman Tanpa Perbuatan Hakekatnya Mati

Loading

Jumat, 18 Februari 2022

Pekan Biasa VI

Bacaan I: Yak. 2:14-24.26

Mzm 112:1-2.3-4.5-6;

Bacaan Injil: Mrk 8:34-9:1

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam  bacaan pertama (Yakobus 2:14-24.26), Rasul Yakobus berkata bahwa “Saudara-saudaraku, apakah gunanya kalau seseorang mengatakan bahwa beriman, akan tetapi tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan kita? Tentunya ia mengatakan bahwa, apabila iman yang kita miliki ini tidak disertai dengan perbuatan, maka iman yang kita miliki hakekatnya mati.

Kita sebagai pengikut Yesus Kristus, mungkin banyak dari kita memiliki iman yang kuat atau besar, akan tetapi nyatanya, sering kali iman yang kita miliki tidak disertai dengan wujud konkret atau perbuatan kasih yang nyata. Kita mungkin masih sering merasa takut untuk mewujud-nyatakan iman yang kita miliki ke dalam perbuatan.

Oleh karena itu saudara-saudari yang terkasih, Rasul Yakobus dalam suratnya kali ini ingin mengingatkan kepada kita yang imannya tidak dilanjutkan dengan perbuatan. Baginya iman itulah yang harus menggerakan kita untuk melakukan kesaksian dengan perbuatan-perbuatan nyata. Iman yang tumbuh, yang dipupuk dalam doa dan aneka kesalehan, yang disuburkan dalam praktek-praktek devosi yang sangat indah menjadi sempurna kalau kemudian menggerakan orang untuk berbuat kasih. Sebab Iman yang tidak dilanjutkan dalam perbuatan hanya untuk memenuhi kesalehan individual dan pada hakikatnya adalah mati.

Fr. Christoforus Dominic F.L

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks