Menggemakan Semangat Pertobatan Ekologis Melalui Gerakan Kolekte Sampah

Loading

KEUSKUPANBOGOR.ORG- Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengurangan sampah melalui pendekatan keagamaan menjadi pilihan yang terus digencarkan saat ini untuk menggaungkan kesadaran dalam melakukan tindakan nyata mengatasi permasalahan lingkungan yang satu ini. 

Hal ini mengemuka dalam Webinar berskala Nasional bertajuk “Mewujudkan Pertobatan Ekologis Melalui Gerakan Kolekte Sampah” yang diselenggarakan pada hari Jumat (18/2/2022) siang. Webinar diadakan secara daring yang diakses melalui Zoom Meeting dan disiarkan secara live di kanal YouTube Sekretariat TKN PSL.

Emanuel Ario Bimo yang merupakan moderator webinar pada hari ini membuka sesi dengan memaparkan bahwa berdasarkan fakta dan hasil penelitian yang ada pencemaran sampah di laut merupakan salah satu persoalan nasional yang perlu segera ditangani. Pencemaran sampah di laut memiliki berbagai implikasi berbahaya yang mengancam keberlangsungan bumi serta keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Dihadapkan dengan realitas ini, maka peran aktif seluruh elemen bangsa termasuk lembaga keagamaan merupakan suatu keniscayaan untuk mengatasi isu pencemaran sampah. 

Bimo yang juga adalah anggota Komisi Ekologi Keuskupan Bogor ini menuturkan bahwa sesuai dengan ajakan Paus Fransiskus kepada seluruh umat Katolik di dunia yang menyerukan tentang pertobatan ekologis serta hakikat Gereja Katolik Indonesia sebagai salah satu elemen bangsa maka Gereja Katolik Indonesia, khususnya Keuskupan Bogor turut terpanggil untuk berkiprah secara aktif dalam menangani sampah di laut yang kontribusinya dimulai dari hulu dan dari tingkat terkecil yaitu umat, paroki dan gereja. 

Lebih lanjut Bimo mengatakan, bahwa Gerakan Kolekte Sampah yang menjadi gerakan Komisi Ekologi Keuskupan Bogor dan dijalankan secara kolaboratif dengan berbagai pihak ini merupakan perwujudan dari tindakan pertobatan ekologis. Maka, dalam webinar ini Gerakan Kolekte Sampah diperkenalkan agar semakin menjangkau khalayak secara luas serta mensosialiasikan gerakan ini agar semakin banyak umat yang tergerak melakukan pertobatan ekologis. 

Webinar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022 yang jatuh pada tanggal 21 Februari mendatang ini merupakan kegiatan kerjasama antara Keuskupan Bogor dengan Direktorat Pengurangan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PSLB3 KLHK), Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Mayora Group dan  Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI). 

Tindakan Konkrit Dalam Pertobatan Ekologis

Mgr Paskalis Bruno Syukur selaku Uskup Keuskupan Bogor turut hadir dan bergabung dalam webinar ini. Mgr Paskalis menyambut dengan baik Gerakan Kolekte Sampah sebagai perwujudan nyata dari pertobatan ekologis. 

Mgr Paskalis menyampaikan bahwa gerakan tersebut sejalan dengan apa yang menjadi perhatian dari Keuskupan Bogor. Ia juga menyampaikan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu;

Pertama, Pertobatan Ekologis merupakan satu gerakan dalam memperhatikan lingkungan hidup. Gerakan untuk melakukan sesuatu yang memiliki efek positif bagi lingkungan hidup mesti dijiwai oleh suatu dorongan dari dalam diri manusia. Mgr Paskalis menekankan bahwa spirit dari gerakan ini adalah spirit untuk melakukan pembaharuan hidup dengan dasar pertobatan ekologis berarti kembali kepada kehendak Tuhan yang ingin manusia melindungi bumi, tempat tinggal kita bersama. Dengan adanya gerakan ini diharapkan manusia dapat membangun relasi dengan Allah, sesama dan alam semesta. Sehingga manusia tidak menjadi manusia yang serakah, namun menjadi manusia yang melindungi dan melestarikan alam semesta.

Kedua, Spirit harus mewujud dan menyata. Mungkin ini disebut sebagai dimensi inkarnatif yang mewujud dari pertobatan ini. Sebagaimana Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan dunia ini, bukan hanya sebatas gagasan tetapi dari tindakan konkrit dengan lahir ditengah-tengah manusia. Dalam konteks ini, pertobatan ekologis mesti diwujudkan dalam Gerakan Kolekte Sampah. Gerakan ini merupakan upaya dalam pembaharuan hidup, dan usaha menjaga relasi dengan Allah. Pembaharuan ini bukan hanya gagasan abstrak tetapi diperlihatkan dalam tindakan konkrit. 

Mgr Paskalis berharap agar umat Keuskupan Bogor melihat Gerakan Kolekte Sampah sebagai tindakan pembaharuan hidup sebagai pengikut Yesus Kristus di dunia ini. Ia pun mengajak umat untuk turut ambil bagian dalam tindakan ini agar gerakan ini. 

Sampah: Sumber Daya Yang Dapat  Memberikan Keuntungan Secara Ekonomi

Rosa Vivien Ratnawati selaku Direktur Jenderal PSLB3 KLHK yang hadir dalam webinar hari ini menyambut baik Gerakan Kolekte Sampah yang dilakukan oleh Keuskupan Bogor.

Dalam sambutannya, Vivien mengatakan bahwa meski tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi cukup berat, perlu adanya sikap optimis dalam menghadapi ini. Lebih lanjut, Ia mengatakan bahwa dalam pengelolaan sampah ada pendekatan-pendekatan yang perlu dilakukan. 

Salah satunya adalah pendekatan dari sisi ekonomi sirkular. Kolekte Sampah adalah salah satu wujud nyata gerakan ekonomi sirkular, yaitu bagaimana sampah menjadi sumber daya yang juga memberikan keuntungan secara finansial. Pada prinsipnya sampah yang dapat didaur ulang tidak hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), namun sampah menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomi. 

Vivien yang juga merupakan Ketua Tim Pelaksana Rencana Nasional Penanganan Sampah Laut ini menyampaikan bahwa sampah yang akan dijadikan kolekte sampah perlu dipilah dengan baik dan benar. Memilah sampah dari rumah merupakan hal penting yang perlu diedukasi kepada masyarakat luas agar semakin besar kontribusi seluruh pihak dalam mengelola sampah dan penurunan pencemaran sampah di laut.

Dalam kesempatan ini, Vivien mengatakan bahwa kerjasama antara PSLB3 KLHK dan Sekretariat TSN PSL dengan Keuskupan Bogor dalam Gerakan Kolekte Sampah merupakan upaya untuk mendorong umat di paroki-paroki di Keuskupan Bogor dalam berkontribusi mengelola sampah dengan memilah sampah yang dapat didaur ulang dan turut ambil bagian dalam Gerakan Kolekte Sampah.

“Mengutip pesan dari Bapa Paus Fransiskus yang menyampaikan seruan untuk melindungi bumi yang merupakan rumah kita bersama. Melalui ensiklik, Paus mengajak kita semua pihak untuk memperbaiki diri dan diperlukan gabungan kekuatan dan satuan usaha menciptakan gerakan dinamisme perubahan yang berkelanjutan,” ujar umat Paroki Santo Matias-Cinere tersebut.

Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pengelolaan sampah dengan baik dan tidak membuang ke TPA adalah sebuah upaya  menurunkan tingkat emisi bumi. Dalam hal ini, Sekretariat TSN PSL dan Komisi Ekologi Keuskupan Bogor mengembangkan pendekatan keagamaan untuk menstimulasi pengelolaan sampah secara baik, khususnya di lingkup Keuskupan Bogor. Vivien berharap agar program Gerakan Kolekte Sampah dapat berkelanjutan dan berkembang di seluruh Keuskupan Bogor. 

Upaya Pengelolaan Sampah 

Sinta Saptarina S selaku Direktur pengurangan Sampah KLHK hadir sebagai narasumber pertama memaparkan materi mengenai “Prospek, Tantangan dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia”

Dalam paparannya, Sinta menjelaskan persoalan sosial yang tengah dihadapi bersama adalah 72% orang Indonesia tidak peduli dengan pengelolaan sampah. Data ini merupakan studi dari Biro Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018. Selain itu, banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke sungai mengakibatkan sampah-sampah tersebut akhirnya menuju ke laut. Hal ini menghasilkan sekitar 70-80% timbulan sampah di laut. 

Menurut data yang diambil dari Sistem Informasi Persampahan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, disebutkan bahwa total timbulan sampah nasional adalah 65,7 juta ton/tahun. Masih berdasarkan data yang sama, dikatakan bahwa upaya pengelolaan sampah di Indonesia masih tergolong rendah. 

Menurut Sinta, sebenarnya banyak hal sederhana yang dapat dilakukan dalam upaya pengelolaan sampah. Seperti menerapkan gaya hidup minimalis yang dalam tindakannya adalah menerapkan hidup minim sampah. Gaya hidup ini dapat dimulai dengan menghindari pemakaian plastik sekali pakai, menggunakan tumbler minum dan kotak makan saat ke kantor atau sekolah, dan upaya-upaya lainnya yang memungkinkan menjalankan tindakan minim sampah dalam kegiatan sehari-hari. 

Masih dalam paparannya, Sinta mengatakan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengelolaan sampah plastik secara tepat seperti dengan mendaur ulang sampah plastik tersebut. Sampah plastik juga masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi, asalkan dapat dipilah secara benar dan baik. Sampah-sampah daur ulang, termasuk sampah plastik, perlu ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya karena pabrik penerima sampah daur ulang tidak mau menerima sampah daur ulang yang tidak sesuai dengan spesifikasi. 

Sinta berharap agar Gerakan Kolekte Sampah dapat mengedukasi umat untuk dapat memilah sampah daur ulang dengan baik dan benar serta terus mengembangkan semangat dalam upaya pengelolaan sampah. 

Pertobatan Ekologis: Gerak Transformatif dan Jalan Bersama 

RD Yosef Irianto Segu yang merupakan Ketua Komisi Ekologi Keuskupan Bogor menjadi narasumber berikutnya yang memberikan materi tentang “Tantangan dan Peluang Gerakan Kolekte Sampah di Gereja Katolik Keuskupan Bogor” 

Romo Segu memaparkan bahwa Gerakan Kolekte Sampah yang menjadi program kegiatan dari Komisi Ekologi Keuskupan Bogor ini adalah upaya mewujudkan pertobatan ekologis. Ada unsur kerohanian yang harus didalami terlebih dahulu sebagai cara hidup. 

Mengutip pernyataan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato si’, Romo Segu mengatakan bahwa Bumi adalah rumah kita bersama. Romo Segu mengutip pernyataan dari Paus, yaitu “Membuang plastik ke lautan merupakan tindakan kriminal. Itu dapat membunuh keanekaragaman hayati, membunuh bumi dan membunuh segalanya.” 

Lebih lanjut, dipaparkan bahwa dalam Road Map II Kebijakan Pastoral Transformatif Keuskupan Bogor memfokuskan pula tentang ekologi integral yaitu alam tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari kita. Alam adalah bagian dari diri kita karena alam adalah bagian dari penciptaan Tuhan. Maka pertobatan ekologis adalah suatu gerak transformatif dan jalan bersama. 

Gerak transformatif ini harus dimasukan dalam kerohanian kita, maka pertobatan ekologis harus digerakan bersama agar dampaknya besar bagi alam. Maka sasaran Gerakan Kolekte Sampah dapat dimulai dari umat, keluarga, sekolah dan paroki. 

Menurut Romo Segu, Gerakan Kolekte Sampah memiliki beberapa tahapan, yaitu:

Tahap Persiapan, yaitu sosialisasi program yang akan dilakukan oleh para Pastor Paroki, diumumkan di berita paroki, dan menyebarkan video-video sosialisasi kepada umat.

Tahap Pelaksanaan, yaitu alur kolekte sampah yang dimulai dari penyaluran kolekte sampah dari umat, pengumpulan di waktu yang ditentukan, kemudian Seksi Ekologi memilah sampah, lalu menghubungi Kibumi untuk menimbang dan mengambil sampah, Kibumi akan menginformasikan jumlah sampah dan hasil penjualan akan ditransfer ke bendahara. 

Monitoring, yaitu membahas capaian program, kendala yang dihadapi dan menyusun strategi serta tindak lanjut. 

Romo Segu pun berpesan bahwa jangan sampai ketidakpedulian akan pengelolaan sampah menjadi bentuk ketidakadilan kepada generasi berikutnya. Perlu adanya kesadaran bahwa memperlakukan sampah dengan baik karena sampah adalah tanggung jawab kita bersama dalam menjaga bumi agar bumi dapat diwariskan kepada anak cucu kita kedepannya. 

Bijak Mengelola Sampah Dapat Menjadi Berkah 

Berikutnya, dihadirkan narasumber yang merupakan Inisiator Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Gereja di Gereja Paroki Keluarga Kudus-Rawamangun yaitu Mona Windoe. Mona membawakan materi bertajuk “Eksistensi dan Peran Kaum Muda Untuk Mendorong Sedekah Sampah Berbasis Gereja di Indonesia” 

Dalam pemaparannya, Mona lebih banyak cerita mengenai pengalamannya dalam mengelola sampah di Paroki Keluarga Kudus-Rawamangun, Jakarta. Telah berkecimpung kurang lebih 6 tahun, Mona menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat perlu mengubah paradigma mengenai sampah. Sampah jika dikelola dengan baik yaitu dipilah dan diolah dapat menjadi berkah. 

Mona juga bercerita bahwa di parokinya, umat dari beragam kategorial turut berpartisipasi di Bank Sampah sebagai bagian dari program sedekah sampah berbasis Gereja yang dilakukan.

Lebih lanjut, Mona mengatakan melalui sedekah sampah ini bukan hanya bersedekah dalam bentuk uang tapi juga berkarya dengan sampah yang ada. Sampah bisa dikelola lagi dan kemudian dapat disedekahkan dan berbagi kepada sesama. Ia berpesan untuk mengelola sampah menjadi berkah bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi sesama dan lingkungan hidup. 

Mendorong Ekonomi Sirkular 

“Tanggung Jawab Produsen Sebagai Offtaker Gerakan Kolekte Sampah” adalah materi yang dipaparkan oleh Ronald Atmadja selaku Direktur Sustainability Mayora Grup. Dalam paparannya, Ronald menekankan tentang upaya pihak Mayora Grup dalam mendorong ekonomi sirkular melalui kolekte sampah. Ia mengatakan bahwa pihaknya telah membangun jaringan nasional dan berkolaborasi dengan multi stakeholder untuk mengedukasi konsep ekonomi sirkular dan edukasi sampah plastik pasca konsumsi. Pihaknya juga terus mendorong masyarakat luas dalam edukasi pemilahan sampah dari rumah dan menjaga lingkungan hidup. 

Ronald mengatakan bahwa ekonomi sirkular adalah solusi nyata untuk Indonesia bersih, Ia juga berharap agar di tahun ini dapat menambah dan memperluas jejak dalam mendukung kegiatan kemitraan Gerakan Kolekte Sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular. 

Semua Orang Dapat Mengatasi Masalah Sampah

Selain menghadirkan para narasumber, diundang pula para penanggap yaitu Suhapli selaku Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Penggerak GRADASI Baitul Makmur Bekasi dan Christine Halim selaku Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI). 

Suhapli menceritakan mengenai perjalanan GRADASI di Masjid-masjid dengan menempatkan kotak sedekah sampah. Ia menyampaikan bahwa ada tim-tim relawan yang siap sedia mengumpulkan sedekah sampah yang telah dipilah dari para jamaah. Hasil penjualan sampah dimasukan di kas masjid dan dipergunakan untuk membiayai anak-anak santri. Lebih lanjut, Suhapli mengatakan bahwa Ia dan tim bekerjasama dengan bank sampah yang berada di Kabupaten Bekasi untuk mengumpulkan minyak jelantah.

Tanggapan lain dari Christine atas pemaparan dari para narasumber adalah semua orang dapat mengatasi masalah sampah dan mengubah menjadi berkah. Kegiatan kolekte sampah bukan hanya menghasilkan nilai ekonomi tetapi juga mampu mengurangi masalah sampah yang menumpuk di lingkungan. Ia pun berharap agar rumah-rumah ibadah bisa membuat Bank Sampah Induk agar lebih terkoordinasi. 

Maria Dwi Anggraini-Komsos Keuskupan Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!