Rekoleksi Sinode Para Uskup Bagi Para Clerus Dan Lembaga Hidup Bakti Dekanat Timur Keuskupan Bogor

Loading

KEUSKUPANBOGOR.ORG- Rangkaian kegiatan Rekoleksi Sinode Para Uskup kembali berlanjut dan kali ini Clerus dan Lembaga Hidup Bakti yang berada dan berkarya di wilayah Dekanat Timur Keuskupan Bogor menjadi peserta yang hadir di rekoleksi yang diadakan di Gedung Serba Guna Paroki Maria Bunda Maria Segala Bangsa-Kota Wisata, kegiatan ini diadakan pada hari Selasa, 8 Maret 2022. 

Rekoleksi dihadiri 30 orang yang terdiri dari para Clerus dan Komunitas Hidup Bakti yang berkarya di wilayah Dekanat Timur. Adapun Paroki dan Lembaga Hidup Bakti yang termasuk ke dalam wilayah Dekanat Timur adalah: 

Paroki St Andreas-Sukaraja 

Paroki Keluarga Kudus-Cibinong 

Stasi Kristus Raja-Hambalang 

Paroki St Vincentius a Paulo-Gunung Putri 

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa-Kota Wisata 

Paroki Hati Kudus Yesus-Citra Indah, Jonggol

Kongegrasi Fransiskanes Sambas (KFS), Jonggol

Kongegrasi Putri Bunda Hati Kudus (PBHK), Kota Wisata

Kongegrasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS), Melania & Mardi Waluya-Cibinong

Kegiatan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh RD Aloysius Tri Harjono selaku Dekan Dekanat Timur. Dalam sambutannya, RD Aloysius Tri Harjono mengatakan bahwa kegiatan sinode ini adalah merupakan gerak langkah bersama. Ia mengajak kepada para peserta rekoleksi untuk membuka diri dalam menjalani proses rekoleksi pada hari ini. 

“Mengikuti kegiatan rekoleksi juga merupakan bagian dari proses sebagai Clerus dan lembaga hidup bakti dalam karya pelayanan. Dalam konteks ini, menjalani karya pelayanan di Dekanat Timur Keuskupan Bogor. Mari membuka diri dan berproses dalam sinode,” Ujar Pastor Stasi Kristus Raja-Hambalang tersebut. 

Kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Pembuka yang dipimpin oleh RD Nikasius Jatmiko. 

Arahan Proses Rekoleksi 

Dalam sesi pengantar yang diberikan oleh RD Lukas Wiganggo disampaikan arahan proses rekoleksi sinode pada hari ini agar peserta yang terdiri dari Clerus dan Lembaga Hidup Bakti mengetahui alur selama rekoleksi dan menjelaskan bahwa rekoleksi dimaksudkan untuk menghidupkan semangat “Jalan Bersama” yaitu menyegarkan iman umat dan untuk menguatkan semangat sebagai “teman seperjalanan” bagi umat lain. Rekoleksi sinode ini mengingatkan bahwa karya penyelamatan Tuhan bekerja dalam himpunan keluarga umat Allah-bukan orang per orang. 

Selain itu, rekoleksi ini dapat menjadi jalan dalam membuka diri terhadap Roh Kudus dan merupakan tujuan rekoleksi diadakan. Rekoleksi menjadi saat untuk membiarkan diri untuk dibimbing dan mendengar Roh Kudus, melepaskan dominasi otak/pikiran, memberi ruang lebih pada suara hati. 

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa perlu mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik adalah juga bagian dari tujuan rekoleksi ini yang dimaksudkan untuk memberi ruang pada setiap orang untuk berpartisipasi. Yaitu terlibat, menemukan, dan menyampaikan hal baik demi perkembangan Gereja baik di tingkat keuskupan maupun universal.

Rekoleksi pada hari ini memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan hal baik. Diharapkan dengan mengikuti rekoleksi, para Clerus dan Hidup Bakti dapat mewujudkan keteladanan hidup pastoral. Serta, rekoleksi ini merupakan upaya untuk menyegarkan kembali hidup panggilan yang disertai dengan aksi nyata yaitu pembaruan hidup. 

Peserta diharapkan mengikuti proses rekoleksi dengan jujur dan apa adanya, menumbuhkan sikap rendah hati, dan kebaharuan dan keterbukaan hati serta membuka diri untuk mendengarkan. Peserta juga diingatkan untuk tidak berprasangka terhadap lain dan tidak terbuai dengan perasaan sudah cukup dan sudah bisa. 

Pertobatan Gereja

Rekoleksi pada hari ini bertema “Transformasi Pelayanan Gereja”, tema ini menjadi hal yang direnungkan dalam sesi narasi refleksi. Narasi Refleksi dibawakan oleh RP Athanasius Maria, CSE. Narasi Refleksi dimaksudkan agar peserta dapat berfokus dan mengingat kembali akan karya pelayanan sebagai Clerus ataupun Hidup Bakti

Dalam penyampaian narasi peserta diajak untuk merefleksikan tentang Gereja harus menjadi Gereja yang ke luar yaitu komunitas murid yang misioner, Gereja yang mengambil inisiatif, melibatkan diri, mendampingi, dan menghasilkan buah. 

Tentang “mengambil inisiatif”, Tuhan memberi contoh dengan lebih dulu mencintai tanpa gentar mengambil langkah pertama, bergerak menemui, mencari yang jauh, mendatangi orang di jalan dan mengundang yang terkucilkan. 

Tentang “melibatkan diri”, seperti Yesus membasuh kaki para murid. Komunitas penginjil melalui karya sehari-hari melibatkan diri dalam kehidupan orang lain, mendekatkan yang berjarak, dan merendahkan diri. 

Tentang “mendampingi”, seperti Yesus yang menyertai manusia di setiap langkah atau prosesnya,yang mungkin keras dan panjang, kesabaran yang tidak lagi memperhitungkan batas. 

Untuk semua itu, kita memerlukan pertobatan yang terus menerus dan upaya bersama untuk membuat perubahan atau transformasi. Bukan kebetulan bahwa gereja duniawi disebut oleh tradisi sebagai gereja peziarah, yaitu gereja dalam perjalanan, kita masih di pengasingan jauh dari Tuhan (2 Kor 5:6), seperti yang diingatkan oleh Konsili Vatikan II (Lumen Gentium, 48). Orang Katolik harus pertama-tama pergi mencari Tuhan agar kemudian mengalami pertobatan sebagai bekal utama karya perutusannya.

Mengutip pesan dari Paus Fransiskus yang membuat seruan bahwa yang kuat untuk pertobatan seluruh Gereja. Pertobatan sebagai syarat untuk pewartaan Injil. Hilangnya otoritas dan sentralitas kekatolikan di dunia kontemporer bukanlah kekalahan, tetapi kesempatan untuk kembali ke Injil. Pertobatan yang secara terus menerus diperbarui menjadi awal mula dalam transformasi pastoral. 

Sudah saatnya para Clerus dan Hidup Bakti untuk bukan hanya menyeru di atas mimbar tapi pertama-tama adalah menyeru melalui tindakan nyata. Proses tindakan nyata akan memampukan untuk menumbuh kembangkan pembaruan dan kesegaran baru. 

Gereja Ada Karena Diutus

Dalam sesi narasi refleksi ini dituturkan bahwa Paus Fransiskus menegaskan secara jelas bahwa identitas dan ciri dasar Gereja adalah misioner. Gereja ada karena diutus. Gereja harus berani untuk keluar, tidak tinggal diam dan tenggelam di dalam, atau berpusat pada diri sendiri. Lebih baik melihat Gereja yang kotor, memar, dan lelah karena keluar, berada di jalanan dunia, daripada sakit dan lesu karena diam di dalam, tidak beranjak dari tempat nyamannya. Gereja harus berani mentransformasi diri dalam hal nilai hidup dan pelayanan-pelayanan dengan terang nasihat Injil. 

Orang Katolik adalah orang yang pertama-tama menemukan sukacita Injil, mengalaminya secara batiniah, dan membaca kembali kehidupannya sendiri dalam terang Sabda dan wajah Kristus. Kemudian, dia keluar dari dirinya sendiri, menuju orang lain: “Sukacita Injil yang memenuhi kehidupan komunitas para murid adalah sukacita perutusan” (EG 21).

Setelah sesi narasi refleksi, peserta diajak untuk melakukan renungan secara pribadi dan bergabung dengan kelompok yang sudah terbagi menjadi 3 kelompok untuk melakukan sharing per kelompok. 

Sungguh Menjumpai Tuhan Dalam Pelayanan

Usai sharing, RD Yohanes Suparta memberikan peneguhan dan penguatan bagi para peserta yang hadir. Dalam sesi ini, Romo Parto, sapaannya, mengatakan bahwa harus ada kesadaran bahwa semua memiliki peran masing-masing dalam semangat berjalan bersama. Namun, yang paling penting adalah kesediaan untuk hadir. Kehadiran sebagai pribadi yang penuh untuk melayani dalam karya pelayanan. Selalu ada situasi yang berat tetapi jangan berhenti pada pemakluman atas kelemahan. Hadir bukan hanya berbicara secara sosiologis tetapi yang diharapkan adalah kita sungguh menjumpai Tuhan. Maka ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang berkembang apabila memiliki kerendahan hati untuk berjumpa. 

“Dalam sharing yang telah dilalui, kita sungguh menyadari bahwa kita hidup dalam komunitas. Gereja itu persekutuan. Kita itu berbeda dan dalam setiap perbedaan itu kita disatukan. Yang pertama adalah disatukan oleh Iman, sebagai kaum Clerus kita disatukan dengan rahmat tahbisan. Dalam Hidup Bakti, kita disatukan untuk menjalani semangat kaul. Kita disatukan dalam panggilan yang sama dan dalam hal ini penekanannya adalah kita dibuat berbeda oleh Allah karena kita diberikan Karunia yang berbeda oleh Allah. Dari karunia itu pula kita diberi kemampuan untuk jalan bersama. Tidak boleh ada yang berjalan lebih cepat, tetapi tidak boleh juga ada yang berjalan lebih lambat,” Pungkasnya. 

Mengutip pernyataan dari Paus Fransiskus, Romo Parto mengingatkan peserta untuk terus berdoa setiap kali menentukan kebijakan-kebijakan dan menjalani karya pelayanan. Kaum Clerus dan Hidup Bakti menjadikan relasi personal dengan Allah untuk bertumbuh dalam kebaikan dan kebenaran. Perlu kekuatan dari Roh Kudus untuk dapat menjalani transformasi pastoral. 

Lebih lanjut, Vikaris Jenderal Keuskupan tersebut mengatakan bahwa Roh Kudus adalah pondasi Gereja. Kalau Roh Kudus dibiarkan bekerja di dalam diri, maka kita akan dimampukan dalam mengambil inisiatif dalam menjalani peran. Sehingga peran itu sungguh dapat dilaksanakan bukan semata-mata menjalankan tugas tapi sungguh menghadirkan Allah dalam setiap pelayanan yang dilakukan. 

“Bersedia untuk diubah oleh Roh Kudus adalah upaya dalam bertransformasi secara pastoral. Kesetiaan dalam mendengarkan Roh Kudus membuat kita mampu menghadapi persoalan-persoalan yang kita hadapi. Gereja yang berjalan bersama hanya mungkin terjadi jika kita memiliki kesetiaan dan kesediaan untuk diubah oleh Roh Kudus,” ujar Romo Parto. 

Diubah Oleh Roh Kudus 

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Yohanes Suparta sebagai Konselebran Utama dan didampingi oleh RD Aloysius Tri Harjono, dan RD Bonifasius Heribertus Beke. 

Dalam homili yang disampaikan, Romo Aloysius mengatakan bahwa bahwa transformasi dapat dilakukan dalam terang Roh Kudus. Seperti murid-murid Yesus mewartakan pengajaran-pengajaran Kristus agar mereka yang mendengar dapat mengalami kasih Kristus. 

Yesus memberikan pengajaran yang berisi nilai-nilai kasih dan pengampunan. Banyak orang bertobat dan sembuh melalui contoh-contoh yang Yesus lakukan. 

Melalui rekoleksi sinode ini, kita diajak untuk bertransformasi. Namun kadang ada kalanya kita memiliki keraguan untuk berubah. Ketika hal tersebut terjadi maka kita perlu menyerahkan diri untuk diubah oleh Roh Kudus agar kita dimampukan untuk berubah dan bersungguh-sungguh dalam karya pelayanan yang kita jalani. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Enable Notifications OK No thanks