Melihat Dulu Baru Percaya ?

Rabu, 9 Maret 2022

Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Bacaan         : Yun. 3:1-10

Mazmur       : Mzm. 51:3-4,12-13,18-19;

Bacaan Injil : Luk. 11:29-32

Sebagai manusia yang normal, sudah semestinya bersyukur mendapatkan kelima panca indra. Panca indra membantu kita untuk mengenal dunia. Kita dibantu oleh mata untuk melihat karya ciptaan Tuhan. Telinga membantu kita untuk mendengar suara. Hidung membantu kita untuk menghirup bebauan. Kulit untuk meraba dan lidah untuk mengecap. Berbeda halnya dengan saudara-saudara kita yang tidak memiliki kelengkapan panca indra. Mereka tidak bisa merasakan seperti apa manusia yang memiliki kelengkapan panca indranya. Mereka tidak bisa melihat indahnya dunia, lantunan musik, dan sebagainya.

            Dari gambaran tersebut, kita bisa membayangkan bahwa butuh sebuah kepercayaan agar orang yang tidak seberuntung kita dapat percaya dengan sungguh-sungguh. Kepercayaan menjadi kata kunci untuk bisa melengkapi satu sama lain. Mereka percaya akan cerita yang kita bangun untuk memberikan dia gambaran. Namun, terkadang kita yang beruntung pun belum tentu percaya bahkan tidak percaya. Kita akan percaya jika ada fakta maupun data yang memperkuat suatu informasi yang kita terima. Hal seperti inilah yang diingatkan oleh Yesus.

            Dalam bacaan hari ini terlebih pada Injil mengisahkan Yesus yang sedang dikerumuni oleh orang banyak dengan sengaja menyindir sebagian orang yang berada di situ. Mereka yang berada di situ menuntut suatu tanda yang didapat oleh panca indra. Ketika tanda-tanda itu diterima dengan panca indra barulah mereka percaya. Mereka inilah yang sebagian besar telah melihat mukjizat-mukjizat Yesus namun belum percaya juga. Pada bacaan pertama, Orang-orang Niniwe yang buruk keadaannya menjadi membaik karena hadirnya seorang nabi bernama Yunus. Tuhan, melalui Yunus, memberikan waktu 40 hari kepada Niniwe untuk ditunggangbalikan. Dengan segera orang-orang Niniwe memperbaiki dirinya dari yang jahat ke yang baik dengan cara berpuasa. Lalu, Tuhan tidak jadi menunggangbalikan Niniwe.

            Nabi Yunus sama seperti halnya dengan yang dilakukan oleh Yesus. Yesus ingin menjadikan dirinya tanda bagi banyak orang yang percaya. Yesus datang ke dunia untuk memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Seharusnya kita dapat belajar dari mereka yang mungkin tidak memiliki kelengkapan panca indra namun mereka percaya akan segala sesuatu. Pada Masa Prapaskah ini, sebenarnya kita diingatkan untuk percaya akan Yesus sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Masa Prapaskah menjadikan momen kita untuk memperbaiki dan membersihkan diri kita dari niatan-niatan yang jahat. Kita harus menjadi manusia yang percaya walaupun itu tidak dapat ditangkap oleh panca indra. Seperti Yesus sendiri yang berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29b). Mari,  pada kesempatan yang baik ini, kita menjadi agen kepercayaan bagi banyak orang yang membutuhkan. Berkah Dalem.

Fr. Gregorius Paskalis Bryan Krisnawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks