Keberadaanku ber-ada karena Tuhan bukan Harta

Loading

Jumat, 17 Juni 2022

Hari Biasa, Pekan Biasa XI

Bacaan I : Kitab 2 Raja-raja: 11:1-4.9-18.20

Mazmur Tanggapan : 132:11.12.13-14.17-18

Bacaan Injil: Matius: 6:19-23

Saudara-saudari terkasih bila kita membaca injil Matius hari ini ada perkataan yang diucapkan Yesus pada kotbah-Nya yaitu dimana hartamu berada disitu pula hatimu berada. Perkatan ini juga masih sangat relevan untuk saat ini. Bahkan sangat tidak mungkin orang hidup tanpa uang. Seolah semuanya butuh uang. Jika kita bicara tentang parameter dari harta maka parameternya adalah uang. Uang menjadi ukuran dari kekayaan yang kita miliki. Sering kita membaca berita terkait dengan orang-orang kaya semua jumlah hartanya akan dihitung dengan uang, atau dengan kata lain diuangkan. Maka dari itu harta dan uang itu adalah sepadan yaitu harta dapat dilihat dari uang dan sebaliknya.

Setiap kotbah tentunya pasti memiliki tujuan. Demikian juga dengan kotbah Yesus. Tujuan dari kotbah Yesus ialah terkait bagaimana menggunakan harta. Dalam kotbah-Nya Yesus memberi komentar tentang kemanusianya manusia. Bagaimana hati manusia itu sungguh dekat dengan harta. Bila kita membicarakan harta tidak terlepas dari keuntungan. Sebab harta itu tidak pernah dibicarakan sebagai kerugian melainkan tetap sebagai keuntungan. Namun menjadi menarik mengapa Yesus mengaitkan harta dengan hati? Maka untuk menemukan maksudnya kita dapat menemukan dari pengalaman manusia.

Di dalam pengalaman manusia. Kita dapat melihat hati menjadi simbol dari kasih sayang. Maka bila kita mengkaitkannya dengan harta ketemulah maksudnya yaitu seperti bait pantun “ada uang abang disayang” tidak ada uang abang ditendang. Bahkan orang yang tidak dikenalpun bisa sayang kepada kita. Sedemikian kuat harta itu menjadikan keberadaankita tetap ada. Namun ketika tidak punya harta kita tidak dipandang dan bahkan sengaja memalingkan pandangannya. Bahkan tidak heran mengapa orang melakukan korupsi bisa jadi karena begitu tergila-gila dengan harta. Jika harta itu dilihat sebagai kekayaan Yesus tidak pernah menghendaki untuk melarang pengikut-Nya untuk kaya, namun yang dikiritik untuk apa gunanya kaya? Maka adapun kekayaan itu hendak-Nya berguna untuk banyak orang, sebab kekayaan dapat menanam kebaikan kepada orang lain.

Sekaligus juga mengajak para pengikut-Nya jangan sampai kasihnya manusia diukur sebatas uang. Akan tetapi hendaknya kasih itu mengendalikan harta kita bukan sebaliknya. Supaya kita tetap diingatkan kembali bahwa sekalipun segala-galanya butuh harta atau uang tetapi tidak berlaku untuk keselamatan Jiwa. Pengertian itu dapat kita temukan ketika pada penguburan orang mati. Oleh sebab itu semoga dengan harta kita tidak melupakan Tuhan melainkan harta mejadikan kita menyadari ke Mahakuasaan Tuhan.

Fr. Lamro Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!