“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mat 9:21)

Senin, 04 Juli 2022

Hari Senin Pekan Biasa XIV

Hos. 2:13,14b-15,18-19

Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9

Mat. 9:18-26

Dalam Injil pada hari ini, terdapat dua tokoh teladan iman akan Yesus Kristus. Pertama, teladan iman yang dimunculkan oleh kepala rumah ibadat. Ketika ia mendapati putrinya telah meninggal, ia langsung bergegas ketika mendapat kabar kalau Yesus ada di sekitarnya. Dengan iman, kerendahan hati, serta menyembah Yesus untuk mendapatkan mukjizat dari-Nya. Ia tidak peduli dengan nyanyian berkabung serta suara tiupan seruling dan para pelayat yang datang ke rumahnya. Oleh karena imannya yang teguh, ia bergerak untuk menemukan Yesus sumber kehidupan dan penghiburan sejati. Hal ini terlihat ketika ia menyembah sujud di hadapan Yesus dan ia memperoleh penghiburan.

Kedua, perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Di tengah kerumanan orang banyak, ia rela desak-desakan untuk melihat Yesus. Dengan keteguhan iman serta keberaniannya untuk mendekati serta menjamah Yesus, terdapat kuasa penyembuhan yang tercurahkan ke dalam diri perempuan itu. Hal ini disebabkan karena ia mendengar kabar kalau Yesus sanggup menyembuhkan berbagai penyakit. Perempuan yang percaya akan Yesus ini, terlebih dahulu percaya akan sebuah kebaikan, kemurahan, dan kuasa Yesus. Perkataan dalam hati yang juga didengar oleh Yesus, “asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Membuat dirinya sembuh terhadap sakit pendarahan yang dialaminya.

Cara Yesus yang berbuat demikian mengingatkan diri kita untuk terus-menerus mempercayai-Nya. Tuhan ingin kita percaya akan setiap firman dan perbuatan-Nya. Tuhan sama sekali tidak mempedulikan derajat manusia sebab Tuhan ada untuk seluruh bangsa. Kita mesti bergerak mendekati Yesus untuk membangun sebuah keintiman, membangun sebuah relasi dengan Yesus yang sanggup untuk menyembuhkan. Ketika diri kita mampu menyadari segala keterbatasa, kerapuhan, dan siapa diri kita, Kita akan menyadari kemegahan dan kebesaran Tuhan dalam diri kita oleh karena kita mempercayainya. Iman akan Yesus Kristus mesti nyata dalam hidup kita. Kesetiaan untuk mewujudkan iman dalam kehidupan menjadi kesempatan untuk berbuat dan bertindak seturut iman. Kesetiaan dalam iman tidak akan sia-sia sebab sudah pasti ada ganjaran atau upah yang kita terima dari Tuhan.

Fr. Gregorius Bryan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!