Aku Mendengarkan Maka Aku Selamat

Kamis,  21 Juli 2022

Peringatan Fakultatif St. Laurensius dr Brindisi

Bacaan Pertama          : Yeremia 2:1-3, 7-8, 12-13

Mazmur                       : 36:6-7ab, 8-9, 10-11

Injil                              : Matius 13:10-17

Dalam proses belajar-mengajar yang tidak boleh dilupakan oleh seorang guru ialah mampu mentransfer materi pengajaran kepada objek yang diajar secara jelas. Apabila seorang guru ingin mengajarkan sebuah materi, maka materi tersebut harus sampai kepada murid atau sekurang-kurangnya mendekati, mau dengan bagaimana caranya yang penting murid dapat megerti dan memahami. Misalnya, apabila guru mengajarkan sebuah bentuk rumah maka bentuk rumah itu harus di dapat oleh murid atau sekurang-kurangnya murid dapat menangkap sebuah gambaran gubuk dari apa yang diajarkan. Memang tidak mudah untuk mencapai pada tahap yang demikian. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas dan kecerdasan seoang guru dalam menyampaikan sebuah materi kepada murid.

Akan tetapi, perlu juga disadari bahwa pemahaman dari sebuah materi yang di ajarkan oleh seorang guru bukan hanya berdasarkan guru saja. Melainkan tanggapan dan keseriusan seorang murid juga tidak kalah penting dalam peroses belajar-mengajar. Apabila seorang guru telah mengajar dengan berbagai cara yang begitu jelas dan kreatif, namun murid tidak mau menaggapi, mendengar, dan mencerna pengajaran tersebut maka materi yang diajarkan tidak akan sampai. Dengan demikian, membuktikan bahwa kerjasama seorang guru dan seorang murid dalam proses belajar-mengajar menjadi dasar yang tidak boleh dilupakan agar proses belajar-mengajar tersebut dapat berlangsung dengan baik dan memperoleh sebuah hasil yang diharapkan.

Injil hari ini merupakan kelanjutan dari injil kemarin, dimana Yesus memberikan pengajaran dengan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur. Pada injil hari ini terdapat seorang murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?”. Perumpamaan merupakan salah satu cara pengajaran untuk mempermudah penyampaian materi kepada objek yang diajar. Yesus mengajar dengan menggunakan sebuah perumpamaan tidak lain karena Yesus mengerti bahwa dengan cara demikian, apa yang Ia ajarkan akan lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami. Tidak hanya itu, tetapi Yesus juga melakukan hal tersebut karena menyadari bahwa tidak semua orang yang ada disitu mendengarkan apa yang di ajarkan oleh Yesus, seperti yang Yesus katakana pada ayat 13.

Kita sebagai manusia kerap kali tidak mau mendengarkan orang lain, kita egois dengan diri kita sendiri. Kita ingin selalu didengarkan tetapi tidak mau mendengarkan. Kita merupakan manusia lemah yang tidak akan mengerti seluruhnya kondisi sekitar kita. Maka dari itu, kita membutuhkan informasi dari orang lain supaya kita tidak tertinggal. Bapa Paus Fransiskus pernah mengajak kita untuk belajar sedikit berbicara dan memperbanyak mendengar. Artinya, dunia kita saat ini sedang krisis akan kepedulian terhadap orang lain. Pada injil hari ini, kita dapat belajar bahwa mendengarkan merupakan tindakan mulia yang dapat menghantar kita menuju kepada Tuhan, karena dengan mau mendengarkan berarti kita menempatkan diri kita untuk orang lain. Oleh karena itu, mulai sekarang kita perlu memeriksa diri kita setiap hari, apakah diri kita condong untuk berbicara atau mendengarkan orang lain?

Fr. Marcelinus Dhion Carmelli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses