Tuhan Sang Penuai

Sabtu, 23 Juli 2022

Peringatan fakultatif St. Briggita

Bacaan Pertama:  Yeremia 7 : 1-17

Mazmur Tanggapan: Mazmur 8 : 34-35

Bacaan Injil: Matius 13 : 24-30

Saudara-saudari terkasih, jutaan manusia hidup dalam dunia ini. Akan tetapi, apakah kita dapat melihat orang tersebut memiliki sifat yang baik atau tidak? Semuanya terlihat sama saja. Mungkin dari mimik wajahnya terlihat baik tetapi belum tentu sifatnya baik atau mungkin dari mimik wajahnya terlihat seram, tetapi belum tentu sifatnya juga jahat. Semuanya hidup Bersama di dunia ini.

Bacaan hari ini menyuguhkan kisah tentang lalang dan gandum yang hidup bersamaan di sebuah ladang. Hamba-hamba tuan berinisiatif untuk mencabut lalang yang tumbuh. Namun tuan tanah tersebut melarang hambanya untuk mencabutnya karena apabila lalang tersebut dicabut, gandum yang lain pun akan ikut tercabut. Maka, pada masa menuai tiba, lalang dan gandum tersebut akan dipisahkan. Gandum dikumpulkan menjadi satu dan dimasukkan kedalam lumbung dan lalang tersebut disatukan dan diikat  kemudian dibakar.

Saudara-saudari terkasih, perumpamaan mengenai gandum dan lalang tersebut mengambarkan hidup kita. Bagaimana hidup kita ini dinilai dari sikap dan perilaku kita. Sikap dan perilaku kita ini menentukan siapa kita bagi orang lain dan bagi Tuhan sendiri. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh kita seperti mengasihi diri sendiri. Hal ini mengarahkan kita kepada bagaimana kita hidup seperti gandum bukan sepertiilalang yang merusak. Meskipun dalam hidup ini terdapat lalang yang cenderung merusak, namun bagaimana dari kita sendiri dapat tetap menjadi gandum yang dapat menjadi berkat untuk orang lain.

Melalui injil hari ini, Yesus berpesan kepada kita semua supaya menjadi gandum yang otentik. Maksudnya adalah bagaimana dalam hidup kita beperilaku baik tanpa adanya suatu alasan untuk berprilaku baik. Perilaku baik yang dilakukan sungguh murni dari dalam hati. Sebab jika tiba masa penghakiman tiba, kita dapat seperti gandum yang dikumpulkan kemudian dimasukan kedalam lumbung-Nya. Apabila kita seperti lalang, kita akan dikumpulkan dan diikat serta dibakar dalam neraka.

Fr. Stanislaus Kasih Patrick

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!