Menjadi Terkecil Untuk Menjadi Besar

Senin, 26 September 2022

Peringatan Fakultatif St. Kosmas & St. Damianus
Bacaan Pertama: Ayub 1: 6-22

Mazmur Tanggapan: Mazmur 17:1, 2-3, 6-7

Bacaan Injil: Lukas 9: 46-50

            Saudara-saudari tekasih, mengawali renungan ini ada sebuah cerita. Ada dua orang, yakni Abdul dan Ahmad. Abdul adalah seorang yang kaya raya. Harta kekayaan berlimpah di rumahnya. Namun berbeda sekali dengan Ahmad. Ahmad adalah orang yang serba cukup. Tidak ada kemewahan yang terdapat dalam diri dia. Suatu hari ada seorang pemullung yang dating untuk meminta bantuan kepada mereka berdua. Abdul yang melihatnya langsung dengan sigap memberi bantuan kepada pemulung itu. Namun ketika Abdul memberikan bantuan, ia segera mengumpulkan kru dokumentasi untuk merekam dan mendokumentasikannya. Kemudian Abdul mempostingnya dalam media sosial. Kemudian pemulung itu datang kepada Ahmad. Ahmad yang berkecukupan itu memberikan makanan yang baru saja ia masak untuk makan siang.

            Saudara-saudari terkasih, mencari suatu popularitas atau ketenaran untuk dapat dikenal dan disanjung merupakan fenomena yang terjadi pada zaman ini. Contoh yang dapat kita lihat adalah banyaknya youtuber berlomba untuk membuat konten membantu orang susah seperti pemulung, tukang sampah, para lansia, dan orang-orang miskin. Dalam hal ini, tindakan menolong atau membantu bukanlah didasarkan dari panggilan hati untuk membantu namun adanya tujuan lain yaitu untuk dilihat oleh orang lain. Banyaknya konten seperti ini menarik perhatian warga media sosial untuk melihat konten tersebut. Maka siapa yang membantu paling hebat, akan memenangkan ketenaran tersebut. Fenomena yang terjadi sama halnya dengan yang para murid alami. Mereka bertengkar untuk mencari siapa yang terbesar. Masing-masing murid membanggakan diri mereka sendiri atas apa yang telah dilakukan dan diperbuat.

            Setiap orang pasti memiliki suatu ambisi untuk mendapat posisi yang pertama. Tidak ada yang mau menjadi yang paling terakhir. Sama juga halnya dengan hal yang terbesar maupun terkecil. Menjadi yang terbesar akan mendapatkan segala kenikmatan seperti ketenaran, perhatian khusus, ataupun pengikut yang banyak. Akan tetapi, Yesus hari ini mengingatkan bahwa untuk menjadi yang terbesar tidaklah instan. Ada suatu tahapan menjadi yang lebih terkecil dahulu. Saya merefleksikan bahwa menjadi terkecil bukanlah suatu hal yang mudah. Mungkin menjadi terkecil akan mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakan. Tetapi bagaimana merendahkan hati untuk melakukannya. Contohnya seperti untuk menjadi kepala perusahaan harus menjadi cleaning service terlebih dahulu.

Saudara-saudari terkasih, melalui injil hari ini Yesus hendak mengajak kita semua untuk sadar terlebih dahulu. Mencapai yang terbesar bukan hal yang instan. Kita harus memulainya dari yang terkecil dahulu. Dalam menjadi yang terkecil kita harus menaruh sikap rendah hati untuk menjalankannya. Dari yang terkecil ini kita belajar suatu proses untuk menjadi yang terbesar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!