Lukas sang Pengarang Injil

Selasa, 18 Oktober 2022

Pesta St. Lukas, Pengarang Injil

Bacaan I          : 2Tim 4:10-17b

Mazmur           : Mzm145:10-13ab.17-18

Bacaan Injil     : Lukas 10:1-9

Menurut tradisi, Lukas adalah seorang dokter kafir tapi lembut serta baik hati, dan mengenal Kristus melalui pewartaan Rasul St. paulus. Setelah menjadi seorang Kristen, ia pergi menyertai Paulus ke berbagai tempat. Lukas merupakan seorang penolong yang banyak membantu Rasul Paulus dalam mewartakan iman. Kitab Suci menyebut Lukas sebagai “Tabib Lukas yang kekasih”. St. Lukas adalah penulis dua buah kitab dalam Kitab Suci, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Lukas ingin menulis tentang Dia bagi umat Kristiani yang baru bertobat. Jadi, ia berbicara denagn mereka-mereka yang mengenal Yesus. Ia mencatat semua perbuatan Yesus yang mereka lihat dan Sabda Yesus yang mereka dengar. Menurut tradisi, Lukas memperoleh sebagian informasi penting dari Santa Perawan Maria sendiri. Bunda Maria merupakan orang yang tepat yang dapat menggambarkan secara jelas kedatangan malakat Gabriel kepadanya untuk menyampaikan Kabar Gembira. Bunda Maria-lah yang paling dapat menceritakan secara rinci kisah kelahiran Yesus di Betlehem serta pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.

Lukas juga menuliskan kisah tentang bagaimana para rasul mulai mewartakan Sabda Yesus setelah Ia kembali ke surga. Dalam kitab tulisan Lukas, Kisah Para Rasul, kita mengetahui bagaimana Gereja mulai tumbuh dan berkembang. Kita tidak tahu pasti bilamana atau di mana Lukas wafat. Ia merupakan salah seorang dari keempat penulis Injil. Dari Injil Lukas kita mengenal cinta serta belas kasih Yesus sang pangkal kasih sejati. Lukas menceritakan bahwa Yesus merupakan model dan pangkal kasih sejati, di mana kasih sejati itu mewujud dalam sebuah tindakan pemberian diri, meskipun hal tersebut seakan tidak menguntungkan dirinya. Frasa ‘kasih itu sabar, murah hati, dan tidak memegahkan diri’ mendapatkan perwujudannya di dalam diri Yesus melalui tindakan pemberian diriNya di kayu salib. Jika saja Yesus tidak mau menyerahkan diri-Nya kepada penderitaan, maka tidak ada keselamatan. Kasih adalah sebuah tindakan aktif. Injil hari ini bukan mengajak kita untuk membiarkan hal buruk terjadi pada diri sendiri, melainkan mengajak kita untuk mencontoh Yesus sebagai sang model kasih sejati untuk berani memberi kasih dalam sebuah tindakan aktif kepada sesama sesuai dengan kemampuan diri. Oleh karenanya, marilah kita meluangkan waktu untuk membaca kitab suci.

Fr. Gregorius Laurenzy Manek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses