Audiensi Kirab Misi Anak dan Remaja Bersama Monsinyur Paskalis di Stasi Santo Laurensius Parung Panjang 

Loading

KEUSKUPANBOGOR.ORG- Stasi Santo Laurensius, Parung Panjang yang berada dalam wilayah pastoral Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung menjadi perhentian pertama perjalanan Kirab Misi di area Dekanat Barat Keuskupan Bogor. 

Pada hari Sabtu, 11 Mei 2024 dilaksanakan audiensi antara anak dan remaja bersama Uskup Keuskupan Bogor yaitu Mgr Paskalis Bruno Syukur. Audiensi ini turut menjadi penanda bahwa rangkaian kegiatan Kirab Misi di stasi ini resmi dimulai selama satu minggu kedepan sebelum Kirab Misi dilanjutkan menuju ke paroki selanjutnya.

Kegiatan pada hari ini dimulai dengan perarakan patung Bunda Maria dan Salib Misi yang diiringi dengan tarian Ende Lio serta disambut oleh anak-anak dan remaja. 

Menjadi Anak dan Remaja yang Hebat serta Rajin ke Gereja  

RD Yustinus Joned Saputra selaku Pastor Paroki Santa Maria Tak Bernoda yang turur hadir menyampaikan dalam sambutannya kepada anak-anak dan remaja bahwa mereka harus bersyukur dalam perayaan ulang tahun Keuskupan Bogor yang ke 75 ini. Serta Ia pun berpesan agar anak-anak dan remaja harus menjadi anak yang luar biasa dan rajin ke gereja. 

“Ayo jadi anak-anak dan remaja yang luar biasa. Jadi anak dan remaja yang dekat dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria, jadilah anak dan remaja yang rajin ke gereja!,” pesannya. 

Kemudian, Mgr Paskalis Bruno Syukur menyampaikan bahwa Yesus ingin kita semua menjadi orang yang baik. Yesus adalah Tuhan yang hidup yang senantiasa datang di tengah-tengah kita. Maka dalam konteks Kirab Misi hari ini, kita diajak untuk semakin mengimani Yesus dan Bunda Maria. 

Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia tersebut pun mengajak anak-anak dan remaja untuk berdoa kepada Bunda Maria lewat doa rosario serta memohon kepada Bunda Maria dan Yesus untuk senantiasa menyertai dan melindungi kita semua. 

“Selain mendoakan untuk menyertai melindungi kita, kita juga perlu mendoakan orangtua kita yang telah merawat kita,” pesan Monsinyur Paskalis.

Kemudian giliran Bapak Paulus Yohanes Doi selaku Ketua Panitia Kirab Misi yang menyampaikan bahwa merupakan sebuah kebahagiaan karena Stasi Santo Laurensius Parung Panjang dapat turut dilibatkan menjadi tuan rumah perjalanan Kirab Misi. Kami berharap dapat memberikan yang terbaik untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kirab Misi ini. 

Anak dan Remaja Adalah Anugerah yang Patut Disyukuri 

Memulai sesi audiensi, Monsinyur Paskalis mengatakan bahwa Kirab Misi merupakan pawai yang memiliki misi agar umat Katolik Keuskupan Bogor semakin mengimani dan rajin berdoa kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus, khususnya dalam perayaan ulang tahun Keuskupan Bogor yang ke 75 ini.

Kemudian Monsinyur Paskalis pun turut menyampaikan bahwa dalam Kirab Misi ini anak-anak dan remaja perlu dilibatkan karena mereka adalah anugerah yang patut disyukuri karena mereka adalah masa depan Gereja. 

“Dalam Kirab Misi, anak-anak dan remaja dilibatkan untuk turut berjalan bersama dengan mengajak mereka diikutkan dalam kegiatan ibadat dan Perayaan Ekaristi serta kegiatan-kegiatan di gereja,” tegas Monsinyur Paskalis. 

Ada pertanyaan dari seorang anak bernama Erlangga yang menanyakan terkait gambar-gambar Uskup yang tertera pada banner, “Monsinyur itu siapa?,” tanyanya. 

Kemudian Monsinyur Paskalis menjelaskan bahwa gambar di banner tersebut adalah Uskup-uskup yang pernah menjadi Uskup di Keuskupan Bogor yaitu Monsinyur Geise, Monsinyur Harsono, Monsinyur Leo Sukoto, Monsinyur Michael Cosmas Angkur dan Monsinyur Paskalis Bruno Syukur. 

Lalu, jawaban dari Monsinyur Paskalis memancing pertanyaan dari Gracia yang menanyakan apakah menjadi Uskup sama seperti pemilihan menjadi seorang presiden. 

Monsinyur Paskalis pun menanggapi pertanyaan dari Gracia bahwa menjadi seorang Uskup adalah rahmat dari Tuhan dan tidak ada dilakukan kampanye-kampanye yang dilakukan untuk mengumpulkan suara seperti dalam pemilihan presiden. 

Ada pula pertanyaan dari Kirani, “Bapak Uskup pernah bertemu Bunda Maria dan Tuhan Yesus gak? Gimana caranya?”

Monsinyur Paskalis pun menjawab bahwa beliau memiliki kerinduan bertemu dengan Bunda Maria maka beliau sering berdoa di depan patung Bunda Maria. “Lalu jika ditanya apakah pernah bertemu dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus maka saya menjawab bahwa saya bertemu dengan Bunda Maria melalui doa dan duduk di dalam keheningan. Sedangkan bertemu Tuhan Yesus adalah saat dalam Perayaan Ekaristi,” jawabnya. 

Di akhir sesi audiensi, Monsinyur Paskalis berpesan kepada anak-anak dan remaja agar menjadi anak yang bangga akan iman kekatolikannya dan berbahagia karena memiliki orang-orang yang mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi mereka. 

Berdoalah Kepada Tuhan dan Bunda Maria  

Rangkaian kegiatan pada hari ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Monsinyur Paskalis didampingi RD Marselinus Wisnu Wardhana, RD Yustinus Joned Saputra, RD Antonius Garbito Pamboaji, RD Yosef Irianto Segu, dan RD Wolfgang Amadeus Mario Sara.  

Pada saat homili, Monsinyur Paskalis mengajak umat yang hadir untuk berlutut dan duduk hening di hadapan Bunda Maria, kemudian mengajak mengintensikan permohonan yang ditutup dengan doa Salam Maria. 

“Hal ini terinspirasi dari pertanyaan Kirani pada saat audiensi bersama anak dan remaja yang dilaksanakan tadi sore yang bertanya soal apakah saya pernah bertemu Bunda Maria. Kemudian saya menjawab bahwa saya bertemu dengan Bunda Maria tatkala berdoa. Untuk itu, saya ingin mengajak seluruh umat yang hadir saat ini untuk bertemu dengan Bunda Maria dengan berdoa kepada Bunda Maria,” tuturnya. 

Monsinyur Paskalis turut mengatakan bahwa berdoa tidak selalu dipenuhi dengan kata-kata maupun permohonan, tetapi juga dapat dengan diam dan duduk hening di hadapan Tuhan dan Bunda Maria. Maka, Monsinyur Paskalis berpesan kepada para orangtua agar dapat mengajarkan anak-anaknya untuk dapat terbiasa berdoa dan duduk hening di hadapan Tuhan dan Bunda Maria. 

One thought on “Audiensi Kirab Misi Anak dan Remaja Bersama Monsinyur Paskalis di Stasi Santo Laurensius Parung Panjang 

  1. Puji says:

    Semoga beberapa tahun berikutnya saat Monsinyur datang kembali ke bumi Parung Panjang, Parung Panjang sudah menjadi sebuah Paroki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!