Koala Daraskan Doa Rosario di Kepulauan Seribu

Mengagumi dan merawat alam semesta adalah wujud iman kita kepada Tuhan Sang pemilik alam semesta. Komunitas Pencinta Alam (Koala) Paroki BMV Katedral Bogor secara khusus pada Mei mendaraskan doa rosario di Pulau Papatheo, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Kegiatan rohani yang digelar Koala di alam terbuka bukanlah kali pertama. Sebelumnya komunitas yang dibentuk satu tahun lalu itu mengadakan kegiatan di kaki gunung. Dalam setiap kegiatan, Misa alam selalu digelar. Di tengah alam, mereka mendaraskan doa, bernyanyi memuji keagungan Tuhan. Merasakan Misa dan doa bersama di alam terbuka rupanya meninggalkan makna tersendiri bagi peserta. “Rasanya lebih khusuk, dekat dengan Sang Pencipta, mungkin terbawa suasana alam,” ungkap Johana Ida, peserta dari Paroki Katedral Bogor, Jumat (31/5).

RD Alfonsus Sombolinggi

Pastor Pendamping Koala RD Alfonsus Sombolinggi yang memimpin Misa alam, berpesan agar peserta mampu merawat ekosistem. Bila sebelumnya kegiatan dilakukan di kaki gunung, kali ini interaksi dengan alam diadakan di tepi laut.

Sekitar 60 peserta mengikuti acara tersebut. Bukan hanya dari kota Bogor, para peserta berdatangan dari Cibinong, Cirebon, dan Jakarta.

Di antara peserta, turut hadir penyandang disabilitas. “Ada dua teman tuli yang ikut, kami mengadakan kegiatan ini secara inklusi. Penyandang disabilitas juga berhak mengalami kegiatan alam ini,” tandas Wakil Ketua Koala Vincenza Gerosa Lina.

Di Pulau Papatheo, peserta mendirikan tenda minimalis untuk bermalam. Untuk mencapai pulau ini peserta harus berjuang mulai keberangkatan dari Muara Angke, singgah di Pulau Harapan, lalu menuju Pulau Papatheo, di mana sepanjang rute itu mereka harus berganti moda transportasi air.

Namun rasa lelah terbayar sudah berkat panorama alam yang mempesona. Tidak sedikit peserta yang menggunakan kesempatan untuk snorkling. Edukasi ekosistem pun mereka dapatkan dengan melihat metode penangkaran penyu.

Hujan deras disertai badai sempat melanda mereka, sepanjang tengah malam hingga fajar menjelang tenda-tenda dibanjiri air. Kendati demikian, peserta yang berjaga sambil berdoa memaknai peristiwa alam tersebut sebagai bentuk kekuasaan Tuhan. Hingga perlahan banjir mulai surut, mereka tak henti mengucap syukur.

Wujud kesadaran merawat alam mereka tunjukan dengan membersihkan sampah sebelum bertolak pulang. (Ignatius Herjanjam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses