keuskupanbogor.org – Uskup Keuskupan Sufragan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM mengajak umat untuk menjadi pribadi-pribadi yang ekologis ketika memberikan sambutan dan renungan dalam kegiatan ‘Trekking Untuk Bumi’ di salah satu tempat wisata alam di Bojongkoneng, Sentul, Kabupaten Bogor.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Perayaan Nasional HUT Laudato Si ke-10 dan merupakan salah satu kegiatan pre-event Road to 10th Year Anniversary Laudato Si, yang akan diselenggarakan di Sentul, tanggal 5-7 September 2025. Kegiatan ‘Trekking Untuk Bumi’ (TUB 2025) ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai Paroki di Keuskupan Bogor, dan juga dari Jakarta dan Tangerang.

Peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut walaupun jalur trekking cukup menantang bagi pemula. Ini merupakan kegiatan pre-event kedua, setelah sebelumnya dilaksanakan kegiatan “Rekoleksi Eko-Praksis” di Panti Asuhan St. Yusup, Sindanglaya, dengan narasumber utama Rm. Martin Harun OFM.
Kegiatan trekking, yang dilaksanakan di Curug Aren, Sentul Forest Club, Bojongkoneng ini, diawali dengan doa dan pengantar oleh Bapa Uskup. “Saya mau katakan, trekking ini bukan trekking yang biasa. Ini trekking menuju ke 10 tahun Laudato Si. Mudah-mudahan kita semua terinspirasi oleh Laudato Si me’ Signore. Paus Fransiskus mewariskan kepada kita, sebuah ajakan untuk mencintai dan merawat lingkungan hidup atau alam semesta ini,” ujar Mgr. Paskalis.

Berikut adalah 8 poin penting yang dibahas dalam ensiklik Laudato Si, yang masih tetap dianggap penting dan relevan untuk terus diperjuangkan dengan melihat kondisi krisis iklim yang terjadi hingga saat ini, yakni (1) Krisis lingkungan yang serius; (2) Pentingnya Injil Penciptaan; (3) Akar Manusiawi dari krisis ekologis; (4) Ekologi integral; (5) Garis-garis pendekatan dan aksi; (6) Pendidikan dan spiritualitas ekologis; (7) Komitmen Bersama; dan (8) Pertobatan ekologis.
Bapa Uskup juga mengajak peserta untuk menyapa sesama dan juga alam ciptaan Tuhan. “Kita berjalan bukan sendirian, tapi berjumpa dengan saudara-saudari, baik sesama manusia, maupun juga alam ciptaan Tuhan. Itu yang disebut persaudaraan kosmos.”

Setelah sampai di puncak bukit atau tujuan akhir, umat bersukacita. Umat tidak hanya berfoto-foto tapi juga diajak untuk memasuki suasana hening dan berdoa sebagai ungkapan rasa syukur atas alam ciptaan yang indah ini, yang dipimpin oleh Bapa Uskup. Setelah itu, peserta trekking Kembali ke base camp untuk mengikuti acara refleksi dan sharing session dan diakhir dengan pengarahan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM.
Bapa Uskup mengatakan melalui kegiatan ‘Trekking Untuk Bumi’ laudato si ini, “kita diajak untuk menjadi pribadi-pribadi yang ekologis. Kita berjuang mengubah diri kita menjadi pribadi yang bersahabat dengan alam ciptaan. Laudato Si me’ Signore dalam Bahasa Itali berati ‘Terpujilah Engkau, ya Tuhanku’
Sebagai pribadi yang ekologis, ketika menikmati dan mensyukuri alam ciptaan Tuhan ini, sehingga kita tidak merusaknya. “Ketika melihat semut di jalan misalnya, kita tidak menginjaknya. Kalau kita tidak injak, artinya dalam diri kita, tidak ada energi untuk membunuh. Demikian juga, kalau ada ular (di jalan). Ular tidak membahayakan kita, biarkan dia lewat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Mgr. Paskalis juga mengapresiasi kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang amat memperhatikan kebersihan lingkungan. Bapa Uskup melihat apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat tersebut erat kaitannya dengan budaya Sunda dan juga sangat alkitabiah.
“Tuhan menciptakan semua yang lain sebelum Dia menciptakan manusia. Jadi, alam itu bisa hidup tanpa kita, tapi kita tidak bisa hidup tanpa alam. Maka saya berharap, ini menjadi starting point untuk kita berjalan bersama. Hemat saya, inilah saatnya kita untuk berjalan bersama, membentuk diri kita menjadi manusia yang ramah, manusia yang bersaudara, manusia yang bukan hanya menerima sesama kita, tapi juga menerima alam ini. Biarkan dia hidup sesuai pertumbuhannya,” ujar Mgr. Paskalis.
Menjadi Duta Perdamaian
Mgr. Paskalis mengajak umat untuk menjadi duta-duta persaudaraan dan perdamaian sesuai dengan warisan mendiang Paus Fransiskus dan juga pesan dari Paus yang baru terpilih, Paus Leo XIV.
“Paus Fransiskus mewariskan kita dokumen spirit hidup Fratelli Tutti, menjadi saudara. Kita bisa membangun persaudaraan karena ada semangat keramahtamahan, semangat kelemah-lembutan, atau dalam bahasa Paus Leo IV sekarang semangat perdamaian, menjadi duta-duta yang membawa perdamaian kepada orang lain,” ujar Mgr. Paskalis.
“Dalam Bahasa Paus Fransiskus, kita bukan membangun tembok, tapi membangun jembatan persaudaraan ini. Melalui belajar dari alam ini, kita menjadi orang-orang yang bersahabat, bersaudara dan menjaga kehidupan orang lain. Kita tidak mematahkan kehidupan, termasuk kehidupan di alam semesta ini. Kita juga berusaha mencegah atau menangani hal-hal yang merusak alam ini, termasuk, misalnya, soal sampah. Kita berjuang bersama,” ujar Mgr. Paskalis
Sebelum menutup, Bapa Uskup mengajak peserta untuk terus bertumbuh dan berkembang menjadi orang-orang yang benar-benar memiliki semangat ekologis. Menjadi orang yang memiliki semangat yang mau menghargai sesama dan menjadi orang-orang yang membawa perdamaian bagi sesama.

Sr. Fosa PIJ dari Sang Timur, yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mengatakan, “kegiatan ini memberikan kesadaran bahwa alam yang indah ini harus saya pelihara karena kita semua belajar dari alam. Alam ini diciptakan untuk kita semua, untuk kita berdayakan, bukan untuk diekspoitasi, dimanfaatkan dan digerus terlalu, tapi harus kita jaga. Niat saya kedepannya, saya lebih mau sadar dengan (melakukan) aksi-aksi nyata melalui program-program di komunitas dan melaksanakannya dengan sungguh hati, bukan sekadar formalitas saja.”
Pada kesempatan itu, juga dilakukan penanaman pohon buah secara simbolis oleh Bapa Uskup, yakni pohon buah bisbul, lerak dan alpukad mentega.
Sebelum acara penutup, kegiatan juga diisi dengan sesi pelatihan singkat tentang “Bantuan Hidup Dasar, Pertolongan Pertama Pada Pasien Henti Jantung”, oleh dr. Edwina Sukmasari Yunus, Dokter Umum Mayapada Hospital Bogor.

Menurut dr. Edwina siapa pun bisa memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami henti jantung, misalnya di jalan. Dokter Edwina menyampaikan beberapa langkah hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan serta tahapan-tahapannya. Pertama sekali yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa diri kita sendiri dalam kondisi aman, baru memberikan pertolongan.
Dokter Edwina, dibantu oleh seorang perawat, kemudian memperagakan langkah-langkah dan tahapan yang dilakukan terhadap seseorang yang mengalami henti jantung. Kegiatan seperti tentu saja sangat bermanfaat dan bisa saja terjadi ketika kita mengadakan kegiatan di luar/alam.
Oleh Roffie Kurniawan
Foto-foto: Alex Suban





Syukur kepada Allah, persiapan menuju perayaan 10 tahun Ensiklik Laudato Si berjalan sesuai rencana. Ad maiorem Dei Gloriam..
Terima kasih Bapak Uskup yang mau terlibat dan ikut mendaki Bukit Langit..
Bapak Uskup menjadikan trekking sebagai sarana untuk menyadarkan kita tentang betapa besar kasih Allah dengan menyiapkan seluruh kebutuhan manusia sebelum manusia diciptakan. Terima kasih Bapak Uskup Mgr. Pascalis Bruno Syukur OFM.