Laporan dari Pelantikan dan Pembekalan Pengurus PUKAT Keuskupan Bogor, 6 Juni 2025
Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor kembali menjadi saksi hadirnya sebuah semangat baru dalam gerakan Profesional dan Usahawan Katolik. Pada Jumat, 6 Juni 2025, puluhan anggota dan tamu undangan berkumpul dalam suasana penuh sukacita untuk mengikuti kegiatan pembekalan dan pelantikan pengurus Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Sufragan Bogor masa bakti 2025–2028.

Acara diawali dengan pembekalan yang tak hanya menjadi pengantar menuju seremoni pelantikan, tetapi juga sarana refleksi rohani dan penyelarasan misi. Ketua Umum PUKAT Keuskupan Bogor, Ibu Monica Kusjanti, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan pembekalan yang mendahului pelantikan bertujuan untuk menanamkan semangat dan jiwa pelayanan di antara para pengurus baru. Melalui tema “Karya Sebagai Wujud Kasih”, para pengurus diingatkan bahwa karya pelayanan harus dilandasi oleh semangat jiwa dan cinta kasih. Ia menyampaikan terima kasih kepada para narasumber yang memberikan inspirasi dan motivasi untuk melayani dengan hati memberi dengan sukacita.

Ibu Monica juga mengutip pesan dari Paus Fransiskus bahwa tak ada keluarga atau pelayanan yang sempurna, sehingga kita perlu senantiasa mengandalkan Roh Kudus sebagai Penolong dalam mengatasi berbagai tantangan pelayanan. Ia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pembekalan dengan hati yang terbuka agar pelantikan menjadi perutusan yang sungguh dihayati.
Menyalakan Roh Pelayanan dalam Semangat Sinodalitas
RD Yohanes Suparta membuka sesi pertama pembekalan dengan menggarisbawahi pentingnya kasih dalam persaudaraan dan karya sebagai dasar gerak komunitas PUKAT Keuskupan Bogor. Moderator PUKAT Keuskupan Bogor tersebut menegaskan bahwa semangat kasih ini perlu terus dihidupi dan dilanjutkan secara konkret dalam berbagai bidang pelayanan, khususnya di ranah pendidikan, pelayanan kepada para lansia, sosial, serta pengembangan UMKM umat. Ketiganya merupakan wujud nyata keterlibatan PUKAT dalam karya pastoral Keuskupan Bogor dan dalam menghadirkan Kerajaan Allah di tengah umat.
Kehadiran Roh Kudus menjadi unsur utama dalam proses ini. Karena itu, dalam setiap misi dan langkah komunitas, PUKAT diundang untuk membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus agar setiap gerak yang dilakukan semakin selaras dengan kehendak Allah dan menjadi bagian yang meneguhkan kehidupan Gereja lokal.

Sebagai komunitas Gerejawi, PUKAT Bogor diajak untuk terus menyadari bahwa Kristus adalah kepala Gereja, pusat dari segala gerak kehidupan iman. Maka, PUKAT perlu membangun spiritualitas dan pelayanan yang mendalam melalui tiga pendekatan penting, yaitu:
- Gereja Sinodal: Berjalan Bersama sebagai Tubuh Kristus
Panggilan untuk menjadi Gereja yang sinodal berarti menghayati Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang berjalan bersama. Pastor Suparta menekankan bahwa PUKAT sebagai bagian dari Gereja setempat harus terus merefleksikan dan menghidupi semangat keterlibatan seluruh unsur Gereja yaitu umat awam, klerus, dan religius. Dalam semangat sinodalitas, seluruh anggota dipanggil untuk mengambil peran aktif dan bersama-sama menjalankan misi Kristus.
2. Rahmat Allah dan Dialog: Menjadi Komunitas yang Terbuka
Mengacu pada ajaran Paus Fransiskus, Pastor Suparta mengingatkan bahwa Gereja sejatinya harus mendengar terlebih dahulu sebelum bertindak. Dalam konteks ini, PUKAT diharapkan menjadi komunitas yang peka terhadap bimbingan Roh Kudus dan terbuka untuk berdialog, baik di dalam komunitas maupun dengan struktur Gerejawi. Ketika menghadapi tantangan atau ketidak-seiramaan dalam menjalankan misi, PUKAT diajak untuk tidak saling menjauhkan, melainkan mengolah tantangan itu dalam semangat kasih dan komunikasi yang membangun. Dengan demikian, karya bersama dapat tetap berjalan dalam keharmonisan dan pertumbuhan iman.
3. Menciptakan dan Melanjutkan Program: Kesetiaan dalam Pelayanan
Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor tersebut pun juga menekankan pentingnya membangun suasana kekeluargaan dalam komunitas PUKAT, meneladani semangat jemaat perdana yang hidup dalam kesatuan dan saling berbagi. Suasana yang akrab dan inklusif ini diharapkan dapat menarik lebih banyak umat untuk bergabung dan terlibat dalam karya pelayanan. Selain itu, PUKAT juga didorong untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan dengan baik seperti kegiatan aksidental (karitatif), pastoral untuk senior/lansia, dan pemberdayaan UMKM umat. Semua ini bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bagian dari tugas Gereja: menguduskan, mengajar, dan memimpin, yang dihidupi oleh umat dalam perannya masing-masing.
Hidup Dalam Kasih
Dalam pembekalannya kepada para pengurus PUKAT Keuskupan Bogor, RP Adrianus Adiredjo, OP selaku Moderator PUKATNAS mengajak seluruh peserta untuk memaknai karya sebagai wujud nyata dari kasih yang menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan sehari-hari. Ia membuka dengan mengajak kita belajar dari alam, khususnya pohon redwood yang bisa tumbuh sangat tinggi hingga lebih dari 100 meter meskipun akar-akarnya hanya sedalam 10 meter. Pohon-pohon ini tetap kokoh karena akarnya saling terhubung dan menopang satu sama lain. Demikian pula, dalam komunitas PUKAT, kekuatan lahir dari semangat saling menguatkan dan berjalan bersama.
Pastor Adrian juga menekankan bahwa kasih adalah fondasi utama dalam membangun persatuan. Seperti jemaat perdana, komunitas PUKAT pun dipanggil untuk memancarkan kasih yang nyata sehingga menghadirkan daya tarik bagi orang lain untuk ikut ambil bagian. Mengutip moto Paus Leo XIV yaitu, “In Illo Uno Unum” yang berarti “Dalam Dia yang Satu, kita adalah satu”, Pastor Adrian mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan dalam diri PUKAT, baik secara internal maupun sebagai bagian dari Gereja yang lebih luas.

Lebih lanjut, Rektor Universitas Katolik Darma Cendika tersebut mengajak peserta untuk meneladani tiga ciri Hati Yesus: kemurnian hati, kerendahan hati, dan kemurahan hati. Kemurnian hati memungkinkan kita melihat Allah dan menghadirkan kasih-Nya dalam dunia. Kerendahan hati, seperti yang ditunjukkan Daud saat menghadapi Goliat, bukanlah kelemahan melainkan kekuatan iman yang tulus. Sementara kemurahan hati adalah sikap mencintai terlebih dahulu dan menjadi pribadi yang mudah dicintai oleh sesama.
Dalam praktiknya, hidup dalam kasih dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan setia dan tulus. Pastor Vikaris Paroki Redemptor Mundi, Surabaya tersebut pun menegaskan bahwa talenta yang dimiliki setiap orang hendaknya digunakan dan tidak disembunyikan. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang otentik sesuai kehendak Tuhan, bukan menilai sesama berdasarkan harta atau status duniawi, tetapi melihat dengan hati yang tulus.
Menutup pembekalannya, Pastor Adrian berpesan bahwa PUKAT tidak harus langsung mengejar hal-hal besar, namun yang terpenting adalah tetap setia menjalankan karya kecil yang telah dipercayakan dan dilakukan dengan kasih. Ia mengutip pesan Santo Yohanes Paulus II yaitu “Tidak ada seorang pun yang terlalu miskin untuk tidak memberi, dan tidak ada seorangpun yang terlalu kaya untuk tidak menerima.
”Kasih harus terus ditumbuhkan dalam setiap pribadi anggota PUKAT agar hati kita semakin menyerupai Hati Kristus. Di sanalah Kerajaan Allah sungguh hadir dan hidup di tengah komunitas,” pesannya.
Kemauan dan Komitmen
Pak Silvester Sudin dari PUKATNAS sebagai Ketua Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan membagikan pengalamannya bahwa selama hidupnya dalam pelayanan yang terpenting adalah harus mempunyai 4K yaitu : Kemauan, Konsistensi, Komitment dan Konsekuensi. Komunitas akan berjalan kalau semua pengurus memiliki kemauan dulu dalam membangun komunitas, konsisten menjalankan terus bergerak dan saling membantu, menjaga komitment dalam melaksanakan pelayanan apa saja yg menjadi tanggung jawabnya mempunyai komitmen untuk dilakukan serta tahu bahwa semuanya itu pasti ada konsekuensi/pengorbanan.

Semua apa yang dikorbankan pastinya Tuhan yang akan menggenapi yang terbaik menurut kehendakNya. Pak Silvester saat ini sudah melayani petani di NTT dengan menanam jagung ratusan hektar juga karena jejaring dari PUKAT. Untuk Itu beliau menekankan tetaplah setia dalam komunitas PUKAT karena pasti ada buah-buah yang bisa menjadi berkat buat sesama, Gereja dan masyarakat.
Momentum Perutusan, Bukan Sekadar Seremoni
Di sore hari, Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur, didampingi oleh RP Adrian Adiredjo OP, RD Yohanes Suparta, dan RD Marselinus Wisnu Wardhana menjadi puncak dari keseluruhan rangkaian acara. Dalam momen yang penuh haru dan harapan itu, pengurus baru secara resmi dilantik untuk masa bakti 2025–2028.
Dalam homilinya, Mgr Paskalis Bruno Syukur mengajak seluruh anggota dan pengurus PUKAT Keuskupan Bogor untuk merenungkan kembali arah dan makna persekutuan yang sedang dibangun. Menjadi bagian dari komunitas bukan sekadar soal kebersamaan dalam kegiatan, melainkan sebuah panggilan untuk berjalan bersama dalam semangat kasih dan pelayanan yang sejati. Uskup Bogor menegaskan bahwa persekutuan yang sehat bukan hanya menyangkut fisik yang kuat, tetapi juga roh yang dihidupi oleh semangat Kristus.

Ia menyampaikan, materi-materi yang diberikan dalam sesi pembekalan bukan hanya sekadar informasi atau strategi pelayanan. Di dalamnya tersirat undangan untuk kembali meneguhkan panggilan, memperbarui relasi satu sama lain, dan membangun kehidupan bersama yang bersumber dari kepercayaan kepada Kristus. “Karena dalam semangat Roh itulah yang membuat kita menjadi orang-orang yang membangun persekutuan serta berjalan bersama,” tutur Uskup Keuskupan Bogor tersebut.

Lebih jauh, beliau mengajak seluruh anggota PUKAT untuk menilik kembali dasar dari seluruh karya dan pelayanan yaitu kasih. Kasih yang sejati hanya mungkin diwujudkan apabila kita lebih dahulu percaya kepada pribadi Yesus Kristus. Dalam Dia, kasih bukanlah ide atau konsep, melainkan jalan hidup yang nyata. Yesus sendiri telah menunjukkan bagaimana mencintai tanpa syarat, mengampuni tanpa menimbang, dan melayani tanpa batas. Dari-Nya, kita belajar bahwa kasih bukanlah milik mereka yang kuat atau berhasil, tetapi milik siapa pun yang bersedia membuka hati dan berjalan dalam iman.
“Jika kita mau membangun kehidupan atas dasar kasih berarti kita mesti percaya kepada pribadi Yesus Kristus yang memberikan teladan dan ajaran untuk mengasihi satu sama lain. Maka berjalan bersama dalam pelayanan bukanlah sekadar tugas organisatoris, melainkan ziarah batin untuk mewujudkan wajah Kristus dalam komunitas kita agar Kerajaan Allah sungguh hadir dan tumbuh di tengah umat, melalui setiap pribadi yang mau menjadi sahabat-Nya,” tegas Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia tersebut.
Berkarya Secara Nyata
Monica Kusjanti, Ketua Umum PUKAT yang kembali dipercaya memimpin mengungkapkan rasa syukurnya akan dukungan berbagai pihak yaitu para pengurus, moderator, PUKAT Nasional, hingga keluarga yang telah memberi ruang dan waktu bagi pelayanan. Ia pun menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk berkarya secara nyata. Ia mengakui bahwa tugas kepemimpinan bukan hal mudah, namun dengan dukungan pengurus, moderator, dan berbagai pihak, ia percaya rencana Tuhan akan digenapi. Ia juga mengajak seluruh pengurus untuk terus menjaga semangat sinodalitas dan kebersamaan dalam karya PUKAT.
“Kami tidak hanya ingin melayani, tapi juga menghadirkan Kerajaan Allah di tengah umat melalui karya nyata, kebersamaan yang tulus, dan pertumbuhan rohani yang konsisten,” ujarnya dalam sambutan pelantikan.

Dalam waktu dekat, PUKAT Bogor berencana mengadakan drama musikal sebagai bentuk penggalangan dana untuk turut membantu pembangunan Gereja Maria Rosa Mystica di Maja. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengembangan organisasi, kesejahteraan anggota melalui UMKM, peningkatan iman dan spiritualitas, serta perluasan jangkauan ke paroki-paroki lain di Keuskupan Bogor.
Di akhir sambutannya, Ibu Monica mengucapkan terima kasih kepada Uskup, para Romo, PUKAT Nasional, sesama pengurus keuskupan lain, donatur, keluarga, dan seluruh panitia yang telah mendukung. Ia berharap kepengurusan ini dapat berjalan bersama dalam semangat kasih dengan menjaga kemurnian hati, kerendahan hati, dan kemurahan hati, serta tetap melalui sikap Kemauan, konsistensi, komitment dan konsekuensi demi kemuliaan Allah semata.
Harapan dan Doa untuk PUKAT Bogor
Kegiatan pelantikan ini bukanlah akhir, melainkan langkah awal menuju karya bersama yang lebih luas. Dalam suasana penuh syukur, para pengurus baru diberkati, diutus, dan dimantapkan untuk berjalan bersama sebagai Gereja sinodal dengan kasih yang menjadi denyut utamanya.
PUKAT Bogor kini mengusung semangat baru: menghidupi kasih dalam karya, menjangkau umat lebih luas, dan membangun sinergi demi kesejahteraan bersama. Dalam keyakinan akan penyertaan Roh Kudus, komunitas ini menapaki babak baru dengan penuh iman dan harapan.
Monica Kusjanti
John A. Nainggolan











