KEUSKUPANBOGOR.ORG – Suasana pagi yang hangat pada hari Jumat, 6 Juni 2025 menyambut kehadiran para peserta di Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Para pengurus dan anggota Persekutuan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Bogor berkumpul untuk mengikuti kegiatan Pembekalan dan Pelantikan Pengurus PUKAT periode 2025–2028. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat pelayanan serta menegaskan peran PUKAT sebagai bagian dari komunitas gerejawi yang aktif dan sinodal.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum PUKAT Keuskupan Bogor, yaitu Monica Kusjanti. Dalam arahannya, Ibu Monica menekankan pentingnya membuka hati terhadap karya Roh Kudus dalam setiap langkah pelayanan.

“Kita diundang untuk terus mewartakan Kerajaan Allah, dengan menyertakan Roh Kudus agar semangat kita dalam pelayanan selalu menyala. Semoga pembekalan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperdalam komitmen kita untuk menghadirkan Kerajaan Allah, khususnya di tengah kehidupan umat Keuskupan Bogor,” ungkapnya penuh semangat.
Pemaparan Materi: Meneguhkan Identitas Komunitas Gerejawi
Sesi materi pertama disampaikan oleh RD Yohanes Suparta, Moderator PUKAT Keuskupan Bogor. Dalam materi bertajuk “Berbagi Harapan dalam Gereja Sinodal Keuskupan Bogor,” Pastor kelahiran 10 Maret 1980 tersebut mengajak seluruh peserta merenungkan makna sinodalitas yang mencakup empat aspek penting:
Pertama, Mendengarkan yaitu keterbukaan terhadap Roh Kudus dan sesama untuk membangun empati dan kepekaan pastoral.
Kedua, Dialog dan discernment yaitu proses membedakan kehendak Allah yang menumbuhkan iman dan persaudaraan.
Ketiga, Kesadaran Gerejawi yaitu identitas bersama sebagai Tubuh Kristus.
Keempat, Keterbukaan yaitu menjalin sinergi internal dalam Gereja dan eksternal dengan masyarakat luas.

Ia turut menekankan bahwa PUKAT adalah komunitas gerejawi yang ikut serta dalam mendukung Keuskupan Bogor dalam bidang iman, sosial, dan ekonomi, termasuk pelayanan pastoral lansia dan pemberdayaan UMKM.

Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor tersebut pun turut mengajak anggota PUKAT membangun sense of belonging dan sense of belong to serta memperkuat solidaritas sebagai satu tubuh dalam Kristus.

Menjadi Komunitas Kasih dan Berkomitmen
Narasumber berikutnya, RP Adrianus Adiredjo, OP, seorang Imam Dominikan, menggarisbawahi bahwa kasih selalu berakar dari keluarga dan komunitas. Dalam pesannya, ia mengajak PUKAT Keuskupan Bogor untuk menjadikan kasih sebagai fondasi utama dalam setiap karya dan pelayanan.

“Semoga Kerajaan Allah hadir dalam hati setiap anggota PUKAT agar dapat menghadirkannya pula di Keuskupan ini,” harap Vikaris Parokial Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, tersebut.


Sesi dilanjutkan oleh Sylverster Sudin, Ketua Bidang Pemberdayaan PUKAT Nasional. Ia menyampaikan materi mengenai bagaimana menjadi pengusaha yang berkomitmen secara moral dan spiritual. Dengan berbagi pengalaman selama aktif di komunitas PUKAT, ia mendorong peserta untuk menumbuhkan karakter pengusaha yang tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga setia dalam nilai-nilai Injil.
Misa Perutusan: Meneguhkan Semangat Pelayanan
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Misa Perutusan yang dipimpin oleh Mgr Paskalis Bruno Syukur, Uskup Keuskupan Bogor. Misa ini juga didampingi oleh RD Yohanes Suparta, RD Marselinus Wisnu Wardhana, dan RP Adrianus Adiredjo, OP.

Dalam homilinya, Monsinyur Paskalis mengajak seluruh anggota PUKAT untuk terus berjalan bersama dalam pelayanan dan membangun persekutuan yang sehat, baik secara fisik maupun rohani.
“Melalui materi-materi yang telah disampaikan dalam pembekalan ini, kita diteguhkan dalam panggilan untuk membangun kehidupan bersama yang didasarkan pada kepercayaan kepada Kristus. Dalam semangat Roh Kudus itulah kita membangun persekutuan dan melangkah bersama,” tutur Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia tersebut.

Lebih lanjut, Monsinyur Paskalis menegaskan bahwa dasar dari seluruh karya pelayanan adalah kasih. Untuk itu, setiap anggota PUKAT diundang untuk menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Kristus yang telah memberi teladan mengasihi tanpa syarat.
“Jika kita sungguh ingin membangun hidup bersama atas dasar kasih, maka kita harus percaya kepada pribadi Yesus Kristus. Dari Dialah kita mendapat jalan untuk mewujudkan kasih itu dalam kehidupan nyata,” tegasnya.











