15 Tahun Imamat: Bersama Kristus, Menjadi Persembahan yang Hidup

KEUSKUPANBOGOR.ORGTidak ada yang mudah dalam menjalani panggilan imamat. Itu adalah jalan sunyi yang penuh pengorbanan, jalan panjang yang menuntut cinta yang terus diperbarui setiap hari. Dalam hening dan rasa syukur yang mendalam, empat Pastor Diosesan Keuskupan Bogor yaitu RD Yohanes Suparta, RD Yustinus Joned Saputra, RD Habel Jadera dan RD Ignasius Irwan Sinurat merayakan 15 tahun perjalanan tahbisan presbiterat mereka pada Rabu, 18 Juni 2025. 

Perayaan Ekaristi menjadi pusat syukur atas rahmat panggilan dan kesetiaan yang terus diperbarui setiap hari. Kegiatan ini dilangsungkan di Gereja Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung, di tengah kehadiran umat, keluarga, serta para sahabat sepelayanan.

Perayaan ini bukan sekadar mengenang hari pentahbisan, melainkan menjadi momen untuk menengok kembali perjalanan ziarah yang telah dilalui, ziarah yang penuh dinamika, dan perjuangan. Setiap langkah adalah perjumpaan dengan Allah yang setia, dan setiap pelayanan adalah ungkapan kasih-Nya bagi umat-Nya.



Pondasi Iman

RD Robertus Untung Hatmoko, di dalam homilinya, menyampaikan tentang perlunya memiliki etos rohani yaitu berdoa, berderma, dan berpuasa agar menjadi pribadi Kristiani yang setia pada iman Kekatolikannya. Etos tersebut bukanlah demi diri sendiri, tetapi bertujuan untuk memuliakan Tuhan. 

Dalam kesempatan ini, Romo Untung bertanya kepada para Imam yang tengah merayakan ulang tahun tahbisannya mengenai apa yang menjadi etos yang selama ini diperjuangkan sehingga bertahan selama 15 tahun. 

Setiap Imam tentu memiliki cara yang unik dalam meresapi dan menghidupi 15 tahun panggilannya. Seperti RD Habel Jadera yang menggarisbawahi satu hal yang penting dari etos panggilannya yang terinspirasi tentang kisah Maria dan Martha. Dalam konteks kisah Maria dan Marta yang diambil dari Injil Lukas 10:38-42, dikisahkan Yesus datang ke rumah dua bersaudari, yaitu Maria dan Marta. Marta sibuk melayani dan mengurus banyak hal untuk menjamu Yesus, sementara Maria duduk tenang di kaki-Nya, mendengarkan pengajaran-Nya.

Melihat Maria tidak membantu, Marta mengeluh kepada Yesus dan meminta agar Maria membantunya. Tetapi jawaban Yesus justru tak terdug “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.”(bdk. Lukas 10:41–42)


Dengan menjadikan kisah ini sebagai inspirasi, Romo Habel menunjukkan bahwa duduk di kaki Tuhan adalah inti dari panggilan imamat yaitu membangun relasi yang akrab dengan Yesus agar pelayanan lahir dari keheningan batin, bukan sekadar rutinitas atau kewajiban. Pelayanan yang benar harus tumbuh dari perjumpaan pribadi dengan Kristus karena hanya dari sanalah kita dapat memberi dengan hati yang penuh dan utuh.

Selanjutnya, RD Yustinus Joned Saputra merangkum etos imamatnya dengan sederhana namun kuat: “Bagi Dia, dan bagi Allah semata.” Segala karya, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia yang memanggil.

Kemudian, RD Ignatius Irwan Sinurat menyatakan bahwa seluruh pelayanannya diabdikan “demi kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar”. Sebuah kesadaran bahwa hidup dan karya seorang imam adalah cermin dari kemuliaan ilahi, bukan pujian dunia.

dan tiba giliran RD Yohanes Suparta yang dengan mantap menjawab panggilannya melalui firman Tuhan dari Ibrani 10:10, yang tertulis “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” Ayat ini menjadi fondasi imamatnya, bahwa kekudusan dan panggilan bukan dari dirinya sendiri, tetapi karena anugerah pengorbanan Kristus.

Perayaan Bersama

Dalam sambutan, Ketua Panitia Pelaksana Perayaan HUT Tahbisan Presbiterat ke-15 ini, yaitu Thomas Mugiyana, menyampaikan bahwa selama dirinya berada di Paroki SMTB Rangkasbitung baru kali ini dirayakan perayaan HUT Tahbisan. Ia merasa bersyukur sekaligus menyampaikan harapannya agar  para Imam tersebut terus setia dan semangat dalam menjalankan panggilan mereka. 

“Kami mengapresiasi segala karya dan pendampingan para Romo bagi umat. Semoga para Romo senantiasa diberikan rahmat selama menjalani karya panggilan demi misi di Gereja Keuskupan Bogor,” tutupnya. 

RD Habel Jadera yang didapuk sebagai perwakilan angkatan tahbisan untuk menyampaikan sambutan mengatakan rasa syukurnya karena untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir, keempat teman angkatan tahbisan tersebut baru dapat merayakan perayaan ulang tahun tahbisan bersama-sama secara lengkap.

Dosen di Universitas Parahyangan tersebut pun menyampaikan bahwa selama ini mereka tidak pernah lengkap berkumpul karena secara bergantian mendapat tugas pelayanan di tempat yang jauh. Di awal masa tahbisan harus ada yang berkarya misi di Agats, Papua, ada pula yang melanjutkan studi di Roma. 

Lebih lanjut, Romo Habel menyampaikan bahwa 15 tahun belumlah cukup, masih banyak tugas pelayanan yang menjadi misi dalam kehidupan. Ia pun mengutip ayat dari Matius 6:4 yang mengatakan bahwa Kerap kali kita jatuh bukan karena lelah melayani, tetapi karena hati ingin dilihat dalam pelayanan. Padahal Yesus berkata: ‘Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Ia berpesan agar kita tidak jatuh karena ingin dilihat, ingin tampil atau membangun citra diri semata dalam menjalankan pelayanan, karena yang terpenting adalah menjalankan pelayanan demi kemuliaan Tuhan. 

Kemudian Pastor Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung yaitu RD Yustinus Joned menyampaikan bahwa dirinya dan ketiga teman angkatan tahbisannya senantiasa saling mengunjungi dan mendukung. Ia pun menyampaikan bahwa 15 tahun bukanlah pencapaian, melainkan rahmat yang perlu terus disyukuri dan dipelihara. Imamat bukan hanya soal melakukan pekerjaan pelayanan, tetapi tentang menjadi pribadi yang diubah oleh Kristus untuk menjadi alat keselamatan bagi banyak orang.

Panggilan Hidup 

Perayaan ini menjadi undangan bagi kita semua untuk kembali merenungkan arti panggilan hidup kita masing-masing bahwa dalam kebersamaan dan kesetiaan, kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah. 

Di tengah tantangan zaman, para Imam ini tetap melangkah, bukan karena kekuatan mereka sendiri, tetapi karena rahmat yang menopang, Gereja yang mendukung, dan umat yang terus mendoakan.

Semoga Tuhan senantiasa meneguhkan langkah para Imam-Nya, agar tetap setia di jalan panggilan, dan menjadi terang dalam kasih Kristus serta harapan bagi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Enable Notifications OK No thanks