KEUSKUPANBOGOR.ORG- Temu Unio Keuskupan Bogor merupakan pertemuan rutin yang dihadiri oleh para Imam Diosesan Keuskupan Bogor. Temu Unio dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Kali ini, kegiatan Temu Unio dilaksanakan di Hotel Karang Sari, Palabuhan Ratu, Sukabumi pada tanggal 18-19 Februari 2025.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diawali dengan perkenalan para pengurus Unio yang baru terpilih beberapa waktu lalu. Mereka adalah :
– RD Dionnysius Yumaryogustyn Manopo selaku Ketua Unio
– RD Lukas Wiganggo selaku Wakil Ketua Unio
– RD Paulus Piter selaku Sekretaris Unio
– RD Andreas Bramantyo selaku Bendahara Unio
– RD Agustinus Wimbodo Purnomo selaku Seksi Pendidikan Unio
Kemudian disampaikan pula beberapa agenda Unio yang akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Usai penyampaian agenda-agenda tersebut, sesi dilanjutkan dengan penyampaian refleksi yang disampaikan oleh RD Dionnysius Yumaryogustyn Manopo. Refleksi tersebut Ia dapatkan dari hasil pertemuan Unio Regio Jawa yang dilaksanakan di Keuskupan Bandung pada waktu lalu. Hasil refleksi yang Ia bagikan terkait dengan spiritualitas dan profesionalitas seorang Imam.
“Spiritualitas dan profesionalitas adalah dua kata yang tampaknya bertolak belakang. Untuk menjembatani kedua hal tersebut, maka diperlukan adanya persatuan mistik,” tutur Vikaris Parokial Paroki Santo Joannes Baptista, Parung tersebut mengawali.

Lebih lanjut, Romo Dion menyampaikan bahwa pengalaman mistik mendasari spiritualitas dan profesionalitas. Pengalaman mistik adalah suatu relasi cinta yang amat kuat dan melekat yang kemudian menjelma menjadi daya gerak dan daya tahan.
“Menjadi Imam adalah panggilan untuk mewujudkan penjelmaan kesatuan di antara manusia dengan Allah. Dalam diri seorang Imam diharapkan melalui kata-kata dan sikapnya muncul kekuatan yang memesona dan mengubah,” tegasnya.
Menghidupi Gereja Sinodal Bersama Orang Muda Katolik dan Lanjut Usia
Dalam Temu Unio di hari pertama, Karlina Rohima Supelli atau lebih dikenal sebagai Karlina Supelli diundang sebagai pembicara dalam sesi studi bersama yang membawakan materi bertajuk “Menghidupi Gereja Sinodal Bersama Orang Muda Katolik dan Lanjut Usia: Membangun Gereja Sebagai Peziarahan Pengharapan”.
Karlina merupakan seorang filsuf dan salah satu astronomer perempuan pertama dari Indonesia. Ia memiliki minat
yang dalam terhadap fisika, matematika dan metafisika. Selain itu, Ia juga memiliki perhatian akan isu-isu kemanusiaan.

“Hiasan orang muda ialah kekuatannya, kehormatan orang tua ialah uban mereka,” tutur Karlina yang mengambil frasa tersebut dari Amsal 20:29.
Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa orang muda punya kegesitan dan kelenturan sedangkan orang tua punya pengalaman dan kearifan. Gereja adalah komunitas iman lintas generasi yang terus berkembang dan bergerak dalam sejarah. Ia pun menyampaikan bahwa baik orang muda maupun orang tua masing-masing punya peran unik dalam membangun Gereja.

Komitmen Bersama Dalam Menjalankan Fokus Pastoral
Kegiatan di hari kedua diawali dengan ibadat yang dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD Tarcisius Puryatno didampingi Diakon Vinsensius Peter Ardi. Dalam homili yang disampaikan, Romo Puryatno menekankan tentang pentingnya seorang Imam yang berjumpa secara pribadi dengan Yesus melalui hidup yang kontemplatif dan meditatif. Pastor Paroki Santo Joseph, Sukabumi tersebut pun menambahkan perlu menyediakan waktu untuk bertemu dan berdoa kepada Tuhan karena Tuhan telah memberikan banyak hal baik di dalam hidup.

Sesi pertama disampaikan oleh Mgr Paskalis Bruno Syukur yang pertama-tama mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para Imam yang telah membantunya dalam menjalankan karya pastoral di Keuskupan Bogor. Uskup Keuskupan Bogor tersebut pun menyampaikan bahwa Temu Unio merupakan wadah persekutuan para Imam untuk bertumbuh dan saling mendukung.
“Unio menjadi tempat persekutuan para Imam dan menjadi tempat saling mendukung,” tutur Monsinyur Paskalis.

Selain itu, Monsinyur Paskalis menyoroti tentang kegiatan-kegiatan di tahun ini yang diadakan di tingkat dekanat. Hal tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama dalam mewujudkan hasil sinode yang telah dilaksanakan serta cita-cita berpastoral di Keuskupan Bogor.
Usai sesi dari Monsinyur Paskalis dilanjutkan dengan diskusi dan sharing bersama para Imam yang berfokus pada pelayanan pastoral bagi lansia di masing-masing paroki dan dekanat.
Dalam kesempatan ini, RD Thomas Gregorius Selamet Riyadi memperkenalkan lagu ciptaannya yang khusus diciptakan bagi Lansia yang bertajuk “Kami Selalu Hebat”

Romo Thomas Peng An, begitu Ia kerap disapa, menyampaikan bahwa lagu tersebut diciptakan agar lansia optimis dalam menjalani hidupnya.
“Saya merasa sedih karena lagu-lagu yang ditujukan bagi lansia terkesan pesimis. Maka saya terinspirasi untuk menciptakan lagu ini, ” tuturnya.

Seluruh rangkaian kegiatan Temu Unio pun ditutup dengan catatan pastoral yang disampaikan oleh RD Yohanes Suparta selaku Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor. Ia menyampaikan terima kasihnya kepada para Imam atas kerjasama yang dilakukan dalam mendampingi OMK dan Lansia yang menjadi fokus pastoral tahun ini di Keuskupan Bogor.

“OMK dan Lansia adalah subjek pastoral bukan objek pastoral. Kita diajak untuk bersungguh-sungguh menjadi teman seperjalanan bagi subjek pastoral yang kita fokuskan pada tahun ini. Semoga kita semakin berkembang untuk mewujudkan kebaikan bersama bagi Gereja Keuskupan Bogor. Terima kasih untuk kerjasamanya,” tutur Romo Parto.









