Kerawam : Dipanggil untuk Mengabdi Negara dan Gereja

Jakarta – keuskupanbogor.org : Komisi Kerawam KWI mengadakan Misa syukur bagi para anggota Dewan yaitu DPR RI, DPD RI dan DPRD (Rabu (20/11/2019) di Aula St. Yohanes Paulus, Katedral Jakarta.Rangkaian acara yang mengusung tema “Dipanggil Untuk Mengabdi Negara dan Gereja” itu dimulai pada pukul 18.30.

Misa berlangsung secara konselebrasi bersama RD PC Siswantoko (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam-KWI), RD Antonius Suyadi (Ketua Komisi HAAK-KAJ), RD Dionysius Adi Tedjo Saputro (Ketua Komisi Kerawam-Keuskupan Bogor), RP Y Rahmadi Mulyono, MSF (Ketua Komisi Kerawam-Keuskupan Tanjung Selor), RP Yohanes Agus Riyanto, MSF (Ketua Komisi Kerawam-Keuskupan Agung Samarinda), RD Agus Sulistyo (Keuskupan Surabaya), RP Matius Pawai, CICM (Ketua Komisi HAAK dan Kerawam-Keuskupan Agung Makassar), RD F. Maxi Unbria (Ketua Komisi Kerawam-Keuskupan Agung Kupang) dengan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo sebagai selebran utama. 

Mengawali homilinya yang mengacu Matius 5 :13-20, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan bahwa tidak banyak orang yang memilih jalan politik dan keormasan dalam menanggapi panggilan hidupnya. Selanjutnya beliau menyampaikan daftar 50 pemimpin dunia yang paling berpengaruh di dunia, yang mana Paus Fransiscus menempati urutan pertama.

Lalu, mengapa Paus Fransiscus diakui sebagai pemimpin yang paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan? Hal ini tak terlepas dari pengalaman beliau semasa muda, pada usia 17 tahun. Saat itu seusai menerima sakramen tobat, Paus Fransiscus membaca kisah dalam Injil Matius dimana Lewi, sang pemungut cukai dipanggil menjadi rasul dan Yesus memandangnya dengan mata penuh kerahiman. Memanggilnya dan berkata “Ikutilah Aku”.

Pengalaman dan keyakinan bahwa Allah itu Maharahim yang sangat mempengaruhi dan menjadi bagian dari perjalanan hidup Paus Fransiscus. Maka saat Paus Fransiscus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires, keberpihakan pada orang-orang yang kurang beruntung itu sungguh nyata. Dan itu yang terus dibawa dan dijalankan hingga kini oleh Paus Fransiscus.

Pengalaman akan Allah yang Maharahim itu mentransformasi pribadi Paus Fransiscus secara terus menerus hingga menghasilkan buah yaitu keberpihakan. Yesus adalah wajah Allah yang Maharahim, maka murid-murid Yesus dipanggil untuk menceminkan wajah Allah yang Maharahim. Paus Fransiscus memiliki pandangan yang tak biasa mengenai Gereja yaitu bahwa Gereja itu dipandang sebagai rumah sakit di medan perang ketika banyak orang yang terluka. Buah lain dari keberpihakan menghasilkan transformasi institusi Gereja Katolik. 

Selanjutnya, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo menyatakan bahwa tentu tiap pribadi memiliki pengalaman yang mendasar dengan Allah, Siapakah Allah itu bagi saya? Sebagaimana halnya Paus Fransiscus, pengalaman pribadi dengan Allah itu hendaknya mentransformasi pribadi-pribadi sehingga dapat berbuah dan bertumbuh menjadi agen-agen transformasi di dalam masyarakat, Gereja juga di tengah-tangah bangsa dan negara. 

Mengakhiri homilinya, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo berharap bahwa akan ada lebih banyak lagi politisi yang sungguh-sungguh memiliki kepedulian pada rakyat dan orang-orang miskin. 

Setelah perayaan ekaristi, makan malam bersama yang didahului dengan doa oleh Romo Koko, demikian panggilan akrab RD PC Siswantoko sang Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam-KWI. 

Acara makan malam berlangsung dengan penuh keakraban dan kehangatan. Obrolan santai disertai canda tawa mewarnai acara makan malam. Alunan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh umat secara “dadakan” turut menghangatkan suasana. Memang acara malam itu diadakan oleh Komisi Kerawam KWI supaya umat dapat mengenal dan mengakrabkan dengan para wakil-wakil mereka yang duduk sebagai Anggota Dewan baik di DPR RI, DPD RI maupun DPRD. 

Usai makan malam, tentu saja perkenalan para Anggota Dewan baik yang duduk  di DPR RI, DPD RI maupun DPRD. Tidak hanya perkenalan diri namun juga visi dan misi yang akan mereka jalankan dalam memangku jabatan sebagai Anggota Dewan. Salah satu Anggota DPR RI terpilih yang juga merupakan Ketua Dewan Pakar ISKA adalah Adrianus Asia Sidot yang duduk di Komisi I. Beliau menyatakan akan berfokus pada pendidikan di Indonesia.

Selanjutnya Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo menyerahkan cinderamata berupa 2 buah buku yaitu Revitalisasi Pancasila dan Sukacita Injil (Evanglii Gaudium) bagi para Anggota Dewan lalu berfoto bersama. 

Rangkaian acara diakhiri dengan menyanyikan secara bersama lagu “Rayuan Pulau Kelapa” yang merupakan lagu kesukaan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo.

Semoga para Anggota Dewan dapat menjadi politisi yang sungguh berpihak dan peduli pada rakyat, bangsa dan negara ini.

Stephanie Annette Siagian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.