Jadilah Bentara Kabar Baik di Tengah Masyarakat, Pesan Mgr Paskalis Dalam Misa Tahbisan Diakonat Keuskupan Bogor

Bertepatan dengan Hari Peringatan Wajib Santo Fransiskus dari Assisi, tepatnya pada hari Senin (4/10/2021) Keuskupan Bogor menyelenggarakan Misa Tahbisan Diakonat. Adapun mereka yang menerima rahmat tahbisan menjadi Diakon adalah Frater Wolfgang Amadeus Mario Sara dan Frater Albertus Aris Bangkit Sihotang. 

Dilaksanakan di Kapel Seminari Menengah Stella Maris, Misa dipimpin oleh Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM selaku Uskup Keuskupan Bogor, RD Nikasius Jatmiko selaku Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus dan RD Jeremias Uskono selaku Rektor Seminari Menengah Stella Maris.

Dalam homilinya, Mgr Paskalis mengatakan bahwa perayaan Tahbisan Diakonat ini diadakan bertepatan dengan Peringatan Wajib Santo Fransiskus dari Assisi. Tentu hari bahagia ini memiliki sebuah maksud yaitu agar para diakon memperkaya hidup diakonat dan imamat mereka dengan menghidupi jejak-jejak kehidupan para pengikut Santo Fransiskus dari Assisi. 

Lebih lanjut, Mgr Paskalis mengatakan bahwa Santo Fransiskus dari Assisi berpegang pada 3 prinsip utama, yaitu: 

  1. Mencintai Kristus dengan kembali ke sumber Iman Katoliknya yaitu Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Bagi Santo Fransiskus, Injil adalah Kitab Suci dan pribadi Yesus Kristus. Dengan membaca Injil, ia membaca Kitab Suci dan mendengarkan Tuhan Yesus yang bersabda kepadanya. 
  2. Ketaatan yang mutlak kepada Paus, Uskup dan Imam yang berada di dalam Gereja Katolik dan hal tersebut menjadi pokok penting yang menyelamatkan karismanya. 
  3. Hidup dalam semangat kerendahan hati dan persaudaraan dengan alam semesta. 

Dengan 3 prinsip tersebut, Mgr Paskalis berharap agar para diakon yang ditahbiskan dapat menghidupi prinsip-prinsip tersebut dalam menjalankan tugas diakonat di masa mendatang.

“Mentahbiskan orang menjadi diakon merupakan suatu tindakan gereja yang menerima orang-orang yang ditahbiskan menjadi anggota hierarki gerejani dan mengutus mereka menjadi bentara Firman Tuhan bersama Gereja yang sifat kodratnya misioner. Calon-calon tertahbis memiliki motivasi luhur untuk mengabdikan diri bagi Tuhan dan siap diutus Gereja untuk membangun dan memperbarui Gereja Tuhan,” ujar Mgr Paskalis.

Menjadi Terang dan Garam 

Masih dalam homilinya, Mgr Paskalis mengatakan bahwa tugas sebagai diakon adalah menggarami dengan membuat hidup persekutuan umat menjadi sesuatu yang menarik dan menyehatkan serta disukai banyak orang. Tugas itu dipertegas lagi oleh Yesus dengan simbol terang dunia yang berarti membuat orang melihat dengan jelas kebaikan-kebaikan dan karya Tuhan dan sesama, dan membuat orang menemukan jalan terang dalam kehidupannya. Menjadi terang dan garam dapat diwujudkan dalam menjalankan tugas perutusan sesuai dengan karunia dan talenta yang dimiliki. 

Mgr Paskalis juga mengharapkan agar para diakon memegang teguh tiga pilar dalam menjalankan tugas perutusan, yaitu: 

Pilar Pertama, percayailah apa yang engkau baca, ajarkanlah apa yang engkau percayai dan laksakanlah apa yang engkau ajarkan.

Pilar Kedua, disimbolkan dalam ritus tahbisan yang didapatkan yang menandakan ketaatan pada hierarki Gereja Katolik demi membangun tubuh Kristus. 

Pilar Ketiga, hiduplah dalam Roh Tuhan yang didapatkan dari ritus penumpangan tangan.

“Lakukanlah tugas perutusanmu sebagai bentara kabar baik dalam masyararat nusantara ini. Bawalah obor dan terang kehidupan di tengah masyarakat, ikutlah membangun bangsa dengan berpedomankan pada nilai-nilai Injil, dan  nilai-nilai kearifan bangsa yang tertuang dalam pilar-pilar kehidupan berbangsa yaitu pancasila, UUD 45 dan seterusnya. Selain itu, jadilah diakon yang rendah hati, siap melayani, siap membangun persaudaraan, dan memiliki jiwa laudato si dan fratelli tutti. ,” pesan Uskup Keuskupan Bogor kepada dua diakon tersebut.

Ecce Ego Quia Vocasti Me 

Menurut Frater Wolfgang Amadeus Mario Sara, atau kerap disapa Frater Mario, Tema tahbisan “Ecce Ego Quia Vocasti Me” atau yang berarti “Inilah aku, maka Engkau memanggil aku” ini dipilih karena bermakna bahwa kita ini hanya bisa menerima apa adanya dengan segala hal yang ada dan akan dihadapi. 

Masih menurut Frater Mario, proses persiapan Misa Tahbisan Diakonat ini berjalan dengan baik, karena meskipun masih dalam suasana pandemi yang dapat dikatakan masa ‘sunyi senyap’ ia dan rekannya Frater Aris dapat menjalani proses yang ada dan dapat bekerjasama dengan baik dengan para panitia yang mempersiapkan tahbisan. 

Lanjutnya, Diakon yang bertugas pastoral di Paroki Santo Joannes Baptista Parung ini merasa sangat bersyukur karena penyertaan Tuhan sangat luar biasa untuk proses perjalanan imannya hingga sampai saat ini. Ia pun berharap dengan rahmat anugerah tahbisan yang diperoleh ini ia dapat tetap menjadi pribadi yang siap melayani dengan rendah hati yang didasarkan pada kasih Tuhan untuk setiap kepercayaan yang Tuhan berikan kepada dirinya. 

(Maria/Komsos Keuskupan Bogor) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.