Rekoleksi Sinode Para Uskup Paroki Santo Joseph-Sukabumi

Loading

Rangkaian kegiatan Sinode Para Uskup tingkat parokial terus berlanjut. Kali ini kegiatan rekoleksi sinode dilaksanakan di Paroki Santo Joseph-Sukabumi pada hari Sabtu, 22 Januari 2022. Pada kesempatan ini, refleksi sinode bertema tentang kemasyarakatan. Bertempat di Rumah Retret Santa Lidwina, Sukabumi kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang berjumlah 83 orang, lalu dilanjutkan dengan pembagian kelompok dan foto bersama dengan masing-masing kelompok bersama para Imam. 

RD Stefanus Sri Haryono Putro selaku Pastor Vikaris Parokial Paroki Santo Joseph-Sukabumi menyambut dengan baik seluruh peserta dan panitia sinode. Dalam sambutannya, beliau mengatakan kepada para peserta agar para peserta dapat mengikuti acara dengan baik dengan berproses bersama dalam sinode para uskup ini.

RD Yosef Irianto Segu selaku Operating Comittee Sinode Para Uskup Keuskupan Bogor dalam sambutannya mengatakan bahwa karya penyelamatan itu bekerja dalam Gereja sebagai himpunan umat Allah. Dalam Gereja yang berisikan keberagaman dan himpunan umat Allah itu tidak berjalan sendirian karena masuk dalam himpunan. Selain itu, Romo Segu mengajak peserta untuk mendengarkan suara hati yang berasal dari Roh Kudus, bukan memikirkan hal-hal yang berasal dari pikiran masing-masing. Dengan demikian Roh Kudus menuntun para peserta untuk berpartisipasi dalam kehidupan bergereja.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan ibadat pembuka yang dipimpin oleh RP Athanasius Maria, CSE dan Sr. Grace, KYM. 

Menguatkan Semangat Sebagai Teman Seperjalanan

Dalam sesi pengantar yang diberikan oleh fasilitator sinode disampaikan arahan proses rekoleksi agar peserta mengetahui alur selama rekoleksi dan menjelaskan bahwa rekoleksi dimaksudkan untuk menghidupkan semangat “Jalan Bersama” yaitu menyegarkan iman umat dan untuk menguatkan semangat sebagai “teman seperjalanan” bagi umat lain.

Rekoleksi sinode ini mengingatkan bahwa karya penyelamatan Tuhan bekerja dalam himpunan keluarga umat Allah-bukan orang per orang.

Selain itu, rekoleksi juga menjadi jalan dalam membuka diri terhadap Roh Kudus dan merupakan tujuan rekoleksi diadakan. Rekoleksi menjadi saat untuk membiarkan diri untuk dibimbing dan mendengar Roh Kudus, melepaskan dominasi otak/pikiran, memberi ruang lebih pada suara hati.

Tidak hanya itu, mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik juga menjadi tujuan rekoleksi yang dimaksudkan untuk memberi ruang pada setiap orang untuk berpartisipasi. Yaitu terlibat, menemukan, dan menyampaikan hal baik demi perkembangan Gereja baik di tingkat keuskupan maupun universal.

Paradoks Yang Diakibatkan Perubahan Dunia

Saat ini terjadi berbagai situasi paradoks yang diakibatkan berbagai perubahan dunia yang dimaksud di mana banyak bangsa begitu berlimpah harta-kekayaan, akan tetapi juga terdapat begitu banyak penghuni dunia tersiksa karena kelaparan dan kekurangan, dan tak terhitunglah jumlah mereka yang sama sekali tidak berpendidikan.

Dunia begitu dimudahkan dalam upaya menjalin kesatuan dan solidaritas lintas bangsa melalui media sosial, tetapi sementara itu juga sangat banyak yang merasa tersingkirkan bahkan kesepian. Alat-alat komunikasi yang semakin canggih, memudahkan pemberitaan peristiwa-peristiwa maupun penyebaran cara-cara berpikir dan berperasaan dengan sangat cepat, sambil tanpa disadari menciptakan penciutan ruang refleksi pribadi, dan semakin menumbuhkan distorsi nilai dalam berelasi – karena tanpa perjumpaan dan kehadiran.

Perubahan yang pesat dalam kehidupan manusia saat ini, nyatanya menimbulkan ketidakseimbangan karena kegagalan manusia meramunya dalam sintesa yang serasi. Terjadi ketidakseimbangan antara pemusatan perhatian pada upaya mencari kemudahan-kemudahan praktis dengan nilai-nilai moral suara hati.

Ketidakseimbangan yang melanda dunia dewasa ini sangat berhubungan dengan ketidakseimbangan yang lebih mendasar yang berakar dalam hati manusia. Manusia menderita perpecahan di dalam dirinya dan hal itulah pula yang menimbulkan pertentangan yang cukup berat dalam masyarakat.

Atas keadaan tersebut, Gereja percaya bahwa kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia terdapat pada Tuhan dan oleh karenanya setiap manusia yang hendak menemukan keseimbangan dan kedamaian harus kembali kepada Tuhan. Gereja mempercayai bahwa dibalik segala perubahan yang terjadi saat ini, ada yang tetap tidak berubah, yaitu Tuhan, Yesus Kristus. Dia yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Dan dalam terang inilah pula gereja berusaha memahami persoalan manusia di jaman ini.

Membentuk Persatuan Sosial

Masih dalam sesi narasi refleksi, disebutkan bahwa panggilan keterlibatan umat beriman dalam masyarakat didasarkan pada pengertian bahwa Allah menciptakan orang bukan untuk sendiri-sendiri melainkan membentuk persatuan sosial. Begitu pula Ia bermaksud menguduskan dan menyelamatkan orang bukan satu per satu melainkan dalam persekutuan umat yang mengakuinya dalam kebenaran dan mengabdi kepadaNya dengan suci.

Oleh karenanya setiap orang diharapkan secara aktif bertanggungjawab dan turut serta dalam mengupayakan kesejahteraan umum dan lain lain karya pelayanan yang meningkatkan kesejahteraan hidup banyak orang. Gereja terbangun untuk memberikan kesaksian akan Yesus Kristus. Kehadirannya harus sungguh dapat dirasakan oleh semua orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Gereja harus mewujud dalam langkah-langkah nyata dalam perjalanannya bersama dengan semua keluarga manusia.

Setia Menjadi Saksi Kristus

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing berkelompok. Ada empat kelompok yang terbagi dan berisikan anggota dari Misdinar, OMK, dewasa umum, sampai lansia. Masing-masing anggota kelompok membagikan sharing yang digerakkan oleh Roh Kudus. Sharing yang dilakukan ini mengarah kepada perkembangan Gereja yang bergerak menuju ke arah yang lebih baik.

Sesi sharing ditutup dengan sesi peneguhan yang dibawakan oleh RP Athanasius Maria, CSE. Dalam sesi peneguhan ini Pater Athan mengajak para peserta untuk setia menjadi saksi Kristus di mana pun para peserta berada. Sebagai anggota gereja yang dibaptis, para peserta dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dan digerakkan oleh Roh Kudus. Digerakkan oleh Roh Kudus menjadi tanda bahwa para peserta memiliki kesatuan antar umat kristiani dan Roh Kudus-lah yang memampukan peserta untuk menjadi saksi Kristus, maka mohonkanlah karunia Roh Kudus agar kita mampu berbuat baik dan bersaksi sesuai dengan kehendak Allah. 

Roh Kudus Memampukan Kita Untuk Melakukan Hal-hal Baik

Setelah sesi peneguhan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi diadakan secara konselebrasi yang dipimpin oleh RP Athanasius Maria, CSE serta didampingi oleh RD Yosef Irianto Segu dan RD Tarcisius Puryatno.

Dalam homili yang disampaikan oleh RD Yosef Irianto Segu, beliau mengatakan bahwa Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan hal-hal baik yang luar biasa, hal-hal yang membuat para pengikut-Nya mampu bertahan dari pengucilan dan pengasingan. Kita terus membawa kepada hal baik yang sepertinya tidak sesuai dengan hubungan sebab-akibat. Kita dimampukan untuk bertindak di luar nalar yang membuat orang tetap merasakan kasih-Nya. 

Contoh konkret yang disampaikan oleh Romo Segu adalah bagaimana umat Katolik mampu menyikapi dengan luar biasa bagaimana mereka tetap bisa berbuat baik dan bersukacita kepada tetangga yang mengucilkan mereka dengan memutuskan untuk tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Katolik. Romo Segu juga berpesan bahwa agar terus mendengarkan Roh Kudus lewat doa, hati dan pertimbangan-pertimbangan agar kehendak bebas yang dimiliki sesuai dengan kehendak Tuhan.

RD Tarcisius Puryatno dalam sambutan sebelum berkat penutup mengatakan untuk tidak perlu takut untuk menjadi garam dan terang dunia walaupun jumlah umat Katolik di Sukabumi hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kota Sukabumi. Kalau memang dimampukan oleh Tuhan, tidak ada sesuatu yang mustahil walaupun terlihat tidak mungkin jika dilihat dari segi matematis misalnya. Romo Pur juga menambahkan bahwa hendaknya kesadaran ini membuat umat Kristiani sadar bahwa segala hal baik yang dilakukan itu dimampukan oleh Tuhan. Setelah Perayaan Ekaristi selesai, acara ditutup dengan foto bersama dari setiap kelompok, wilayah, dan kategorial.

Fr Michael Randy & Maria Dwi Anggraini

Dokumentasi: Fr Michael Randy & Komsos St Joseph-Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks