Rekoleksi Sinode Para Uskup Stasi Santo Laurensius-Parung Panjang 

Loading

KEUSKUPANBOGOR.ORG- Pada hari Sabtu, 2 April 2022 Stasi Santo Laurensius yang terletak di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor mengadakan Rekoleksi Sinode yang bertema Lingkungan Hidup. Rekoleksi ini dihadiri 38 peserta yang merupakan umat stasi. 

Mengawali kegiatan, RD Robertus Untung Hatmoko yang merupakan perwakilan dari tim Keuskupan Bogor turut hadir dalam kegiatan ini memberikan sambutannya dan mengatakan bahwa rekoleksi yang dilakukan pada hari ini di Stasi Santo Laurensius adalah untuk turut berpartisipasi dalam rangkaian Sinode Para Uskup yang diselenggarakan.

Rekoleksi ini diharapkan dapat menghadirkan Roh Kudus dalam langkah jalan bersama membangun Gereja menjadi semakin baik. Melalui Sinode ini, semua umat beriman yang telah dibaptis diajak untuk ambil bagian untuk memikirkan Gereja di masa yang akan datang. 

“Apa yang kita lakukan dievaluasi, lalu memikirkan cara-cara untuk membangun Gereja yang lebih baik. Dalam sharing yang nanti akan dilakukan diharapkan umat dapat memberikan pendapatnya tentang Gereja yang diharapkan di masa mendatang,” Tutur Vikaris Episkopal (Vikep) Pendidikan Keuskupan Bogor tersebut. 

Lebih lanjut dikatakan oleh Romo Untung, Gereja menjadi tanggung jawab bersama. Harus ada kesadaran untuk berpartisipasi dan bergerak di dalam Roh Kudus, sehingga Gereja dapat menjadi inklusif menerima perbedaan-perbedaan yang ada.

Kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Pembuka yang dipimpin oleh RD Marselinus Wisnu Wardhana. 

Menyampaikan Hal Baik Dalam Perkembangan Gereja

Dalam sesi pengantar yang dibawakan oleh Bapak Don Bosco selaku tim fasilitator Sinode Para Uskup di Keuskupan Bogor. Dalam pengantar disampaikan mengenai arahan proses rekoleksi agar para peserta mengetahui alur selama rekoleksi dan menjelaskan bahwa rekoleksi dimaksudkan untuk menghidupkan semangat “Jalan Bersama” yaitu menyegarkan iman dan untuk menguatkan semangat sebagai “teman seperjalanan”. Rekoleksi juga menjadi jalan dalam membuka diri terhadap Roh Kudus dan merupakan tujuan rekoleksi diadakan. Rekoleksi menjadi saat untuk bersama-sama membiarkan diri untuk dibimbing dan mendengar Roh Kudus, melepaskan dominasi otak/pikiran, memberi ruang lebih pada suara hati. 

Hal lain yang disampaikan adalah bahwa dengan mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik juga menjadi tujuan rekoleksi yang dimaksudkan untuk memberi ruang pada setiap orang untuk berpartisipasi. Yaitu terlibat, menemukan, dan menyampaikan hal baik demi perkembangan Gereja baik di tingkat keuskupan maupun universal.

Dalam sesi pengantar ini, peserta diingatkan pula bahwa perlu mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik adalah juga bagian dari tujuan rekoleksi ini yang dimaksudkan untuk memberi ruang pada setiap orang untuk berpartisipasi. Yaitu terlibat, menemukan, dan menyampaikan hal baik demi perkembangan Gereja baik di tingkat keuskupan maupun universal.

Peserta diharapkan mengikuti proses rekoleksi dengan jujur dan apa adanya, menumbuhkan sikap rendah hati, dan kebaruan dan keterbukaan hati serta membuka diri untuk mendengarkan. Peserta juga diingatkan untuk tidak berprasangka terhadap lain dan tidak terbuai dengan perasaan sudah cukup dan sudah bisa. Selain itu, peserta diharapkan memohon campur tangan Roh Kudus menunjukan segala kebaikan yang perlu dihidupkan dalam Gereja di masa mendatang. 

Bumi, Rumah Kita Bersama

Dalam sesi narasi refleksi yang dibawakan oleh fasilitator Sinode Para Uskup di Keuskupan Bogor yaitu Bapak F.X Bayu, peserta diajak untuk merefleksikan mengenai lingkungan hidup. 

Bersama Paus Fransiskus, Gereja memandang ibu bumi ini sebagai “saudari, rumah kita bersama”. Sebagai saudari, kita mestinya berbagi kehidupan dan memuji keindahan ibu bumi ini yang lengannya terbuka lebar untuk memeluk kita semua. Hendaklah kita jangan lupa bahwa kita berasal dari tanah; badan jasmani kita dibentuk dari elemen-elemen bumi, kita menghirup udara bumi dan menikmati kehidupan dan kesegaran dari air yang dialirkan oleh ibu bumi ini. 

Melalui Ensiklik Laudato Si’, Gereja mengingatkan kita akan prilaku manusia terhadap ibu bumi ini. Bumi pertiwi diperlakukan secara semena-mena, dieksploitir, diporak-porandakan semata-mata karena keserakahan serta arogansi dan rendahnya rasa menghormati manusia terhadap saudarinya, ibu bumi ini.

Menghadapi tindakan keserakahan dan arogansi manusia terhadap saudarinya ibu bumi itu, kita diundang untuk melakukan “Pertobatan Ekologis”. Kita diajak untuk berbalik, memutar haluan, “merubah pola pikir dan pola bertindak kita” sebagai penghuni ibu pertiwi masa kini. Pola pikir dan bertindak baru perlu dikumandangkan. Pola baru itu berkenaan dengan “cara lebih memandang keindahan dan rasa tanggung jawab kita untuk melestarikan rumah kita bersama ini” dari pada mengeksploitasi habis-habisan isi perut bumi dan menghilangkan keindahan “saudari” kita ini demi kepentingan sesaat.

Inilah saatnya kita “memulai lagi” bertindak dalam semangat “pertobatan ekologis” – yaitu sebuah pertobatan yang mengantarkan kita untuk mengubah cara hidup dan sikap kita mengupayakan kelestarian lingkungan sebagai wujud kehendak dan keputusan sadar kita untuk mengikuti kehendak Tuhan sendiri yang menginginkan kita agar kita memelihara alam ciptaanNya – dan bukan merusaknya.

Melakukan Tindakan Nyata

Semua niat baik harus bermuara pada tindakan yang nyata. Demikian pula, seiring dengan semangat Laudato Si’, Bapa Uskup Bogor menyerukan untuk mewujudkan kecintaan pada Ibu Bumi dalam berbagai matra tindakan yang nyata :

Dalam keluarga. Hendaknya mulai dibangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang mencerminkan keterlibatan nyata dalam memelihara Ibu Bumi, misalnya dengan mengurangi buangan sampah, mengelola sampah menjadi kompos, menghemat listrik dan air. Anak-anak harus didampingi dan dibimbing untuk mulai mencintai bumi sebagai saudara dan saudarinya;

Dalam lingkungan, wilayah dan paroki. Hendaknya seruan Paus Fransiskus dapat diwujudkan dalam kegiatan kolektif di tingkatan teritorial gereja dalam berbagai karya nyata yang berkelanjutan, seperti bank sampah, penanaman pohon, kampanye konsumsi bijak, dan lain-lainnya. Hendaknya tingkatan teritori gerejawi menjadikan diri mereka sebagai pusat dari gerakan ramah lingkungan.

Dalam sekolah, Hendaknya setiap sekolah mengembangkan program “Sekolah Ramah Lingkungan” atau sering disebut sebagai “ Green School”. Upaya penyadaran dan pengembangan kecintaan pada Ibu Bumi sebaiknya dielaborasi di dalam kurikulum dan kegiatan rutin di sekolah.

Dalam masyarakat, Hendaknya umat Katolik di Keuskupan Bogor secara proaktif membangun gaya hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat. Umat katolik hendaknya menjadi bagian dari “harapan” bagi masyarakat melalui inisiatif dan cara hidup ramah lingkungan yang berkelanjutan. Inisiatif gerakan peduli lingkungan hendaknya juga menjadi momentum untuk bekerjasama dengan pemeluk dan lembaga agama lain yang ada di lingkungan kita.

Kita perlu untuk menghidupkan semangat “jalan bersama” dalam rangka menyelamatkan lingkungan kita. Dalam “jalan bersama “ itu kita akan menemukan kesadaran-kesadaran bahwa kita, manusia, menjadi salah satu kunci bagaimana bencana atau krisis bisa kita cegah atau kendalikan.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan permenungan pribadi dan sesi sharing berkelompok yang terbagi menjadi 2 kelompok yang terbagi sesuai usia masing-masing peserta. Kegiatan sharing dilakukan di tempat yang terpisah agar dapat terfokus. 

Kekuatan Dari Roh Kudus

Sesi sharing ditutup dengan sesi peneguhan yang dibawakan oleh RD Marselinus Wisnu Wardhana yang menyampaikan kepada peserta bahwa dengan kehadiran Roh Kudus, kekuatan kita semakin besar. Maka Gereja senantiasa hadir dan berkembang karena Roh Kudus berkembang. 

Perjumpaan dalam rekoleksi pada hari ini merupakan keterlibatan yang mestinya dapat membuat berpikir kembali bahwa identitas sebagai orang Katolik maka kekuatan terbesar dari Ilahi adalah Roh Kudus. Ketika dibaptis, seseorang masuk ke dalam mistikus tubuh Gereja. 

Dalam konteks sharing yang sudah dilakukan, membuat peserta yang hadir memahami bahwa sharing dilakukan untuk menumbuhkan kekuatan untuk saling mendengarkan. Mengutip pesan dari Paus Fransiskus untuk berjalan bersama sebagai orang-orang yang mau menemukan keselamatan, itulah yang disebut Gereja Sinodal yaitu Gereja yang berjalan bersama. 

“Perlu disadari bahwa kita tidak berjalan sendirian, kita bisa berjalan bersama jadi tidak perlu takut dan khawatir. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesulitan, Ia akan memberikan kekuatan, ” Tegas Sekretaris Jenderal Keuskupan Bogor tersebut. 

Masih dalam sesi peneguhan, Romo Marsel mengatakan bahwa peran Roh Kudus menjadi nyata ketika kita mau melibatkannya. Dengan mendengarkan Roh Kudus, Paus Fransiskus mengajar kita untuk mendengarkan Roh Kudus setiap hari. Dari Roh Kudus itulah maka munculah kebaikan-kebaikan, oleh karena itu kita akan dituntun menuju kebaikan. 

“Dengan mengikuti Sinode, kita diajak untuk mendengarkan pengalaman iman. Maka tetaplah berbuat baik dan setia kepada Kristus,” Harap Romo Marsel. 

Roh Kudus Yang Memampukan

Perayaan Ekaristi menjadi puncak dari kegiatan rekoleksi pada hari ini. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Robertus Untung Hatmoko didampingi RD Marselinus Wisnu Wardhana. 

Dalam homili yang disampaikan oleh RD Robertus Untung Hatmoko, dikatakan bahwa manusia diberikan kepercayaan menjadi teman seperjalanan dalam merawat alam semesta. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah manusia mau menjaga kepercayaan tersebut? 

Roh Kudus memberikan kekuatan untuk bergerak kepada kebaikan. Roh Kudus memberikan semangat supaya manusia sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Orang-orang yang dikaruniai Roh Kudus yang memampukan dalam memperoleh harapan akan kehidupan kekal kalau membawa kepada tiga hal, yaitu;

Pertama, membawa kebaikan. Orang beriman yang dikaruniai Roh Kudus harus mampu melakukan tindakan yang mengarah kepada kebaikan 

Kedua, membawa kebenaran. Roh Kudus harus mengarah kepada kebenaran yang diwartakan Yesus Kristus. 

Ketiga, membawa keindahan. Suasana penuh kebahagiaan dan kerukunan. Roh Kudus yang membawa kepada sukacita. 

“Gereja dipanggil untuk ambil bagian dan bertanggung jawab untuk merawat alam semesta. Semoga Roh Kudus yang ada dalam diri kita sungguh-sungguh kita hayati untuk membawa perubahan menuju kebaikan,” Tuturnya. 

Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!