Pada hari Jumat, 29 April 2022, jaringan GUSDURian Banten bekerja sama dengan Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama (FOKAPELA) Banten menyelenggarakan agenda Ngabuburit Ramadhan 2022 dengan mengadakan buka puasa bersama dengan Orang Muda Katolik (OMK) yang bertempat di Aula Alexander Gereja Katolik Kristus Raja Serang. Agenda Ngabuburit Ramadhan 2022 ini dinilai sangat bermanfaat dalam merajut kebhinekaan sesama anak bangsa di bumi pertiwi ini.
Hadir dalam acara ini adalah perwakilan lintas agama dari beberapa daerah di Banten, yaitu Rangkas, Cilegon, Serang serta tentunya tuan rumah sendiri yaitu OMK Gereja Kristus Raja – Serang, Romo Irwan Sinurat serta wakil Ketua DPP bapak Widiatmoko
Pada agenda ngabuburit damai lintas agama kali ini berbincang soal puasa dalam sudut pandang masing-masing agama, khususnya puasa di Gereja Katolik.

Sebagai pembicara kali ini adalah RD Irwan Sinurat selaku Pastor Vikaris Parokial Paroki Kristus Raja-Serang. Dalam perbincangan ini Romo Irwan membahas mengenai Makna Puasa untuk Gereja Katolik.
Menurut Romo Irwan, puasa umat Katolik diawali dengan hari Rabu Abu. Pada waktu itu umat Katolik datang di Gereja dan ditandai abu pada dahinya. Maknanya adalah kita kembali pada makna abu itu yaitu berasal dari tanah. Pastor akan mengucapkan bertobatlah dan percayalah pada Injil atau dari abu akan kembali pada abu. Ketika manusia menyadari bahwa dia berasal dari tanah dan siapa penciptanya maka dia menyembahNya. Bukan orang tersebut menjadi sombong dengan apa yang dia terima, entah kepintaran, kekuasaan, harta atau apapun statusnya, seolah merasa lebih dari Tuhan, bahkan pada titik tertentu tidak percaya pada Tuhan. Ketika manusia merasa diri seperti itu, kita dituntut agar dimasa Prapaskah ini, menyadari bahwa kita ini ciptaan Tuhan (seturut citra Allah) yaitu baik adanya.
Selama Prapaskah, umat Katolik akan berpantang dan berpuasa. Selama 40 hari umat Katolik bepantang dan berpuasa dengan ketentuan ada usia-usia lanjut, ada usia anak-anak, Ada yang pantang saja, ada yang berpantang dan berpuasa.
Bacaan Kitab Suci, mengenai Tuhan Yesus yang digoda. Ada 3 godaan disana dan kita diajak untuk merefleksinya yaitu;
- Tuhan Yesus diminta mengubah bantu menjadi roti. Intinya soal makanan. Makna makan itu, yaitu nafsu untuk makan. Kita bisa mengontrol diri dengan makan makanan yang sederhana.
- Yesus diajak ke puncak Baik Allah. kemudian disuruh menjatuhkan diri. Maknanya: Kita harus melepaskan ego dan kesombongan kita. Semua kita adalah sama, citra Allah, dan yang lebih tinggi adalah Tuhan Allah
- Yesus diajak ke gunung yang tinggi, kata iblis lihatlah ini semua ini akan kuberikan kepadaMu, sembahlah aku. Intinya : Kita berbicara tentang harta dunia. Kita menjadi hamba dari benda benda, bukan menjadi tuan. Artinya selama 40 hari ini apapun yang menjadi keterikatan kita, misalnya HP. Seolah olah kita tidak bisa lepas dari itu
Selama 40 hari umat Katolik diajak untuk merenungkan itu. Dengan Puasa umat Katolik diajak untuk mengurangi, dan diserahkan kepada pribadi masing-masing untuk mengontrol ketiga hal tersebut yakni kesombongan, harta benda dan juga makan dengan dikurangi sekuat tenaga yang menjalankan puasa. Tuhan Allahmu lah yang tahu.
Romo Irwan kembali mengupas mengenai arti dari “mengurangi” yaitu biasanya setiap tahun umat Kristiani diajak untuk merenungi satu tema yang diajak oleh Keuskupan. Tema itu kita renungi dan kita membuat kolekte dalam bentuk kotak APP, dibagi kepada umat untuk diisi dari bukti nyata kita mengurangi makan. Sebagai contoh biasanya kita mengelurkan biaya makan 100 ribu, memasuki masa Prapaskah ini, kita kurangi biaya makan da sisanya dimasukan kedalam kotak APP dan kemudian dikumpulkan pada hari akhir masa Paskah dan diberikan oleh gereja kepada orang orang yang tidak mampu melalui PSE.

Ketika diminta tanggapan mengenai acara buka puasa bersama kali ini, saudara Taufik Hidayat selaku koordinator GUSDURian Banten mengatakan bahwa sangat berkesan ditempat ini karena lebih santai dan enak diajak ngobrol sehingga diolog itu terbuka dan tidak ada yang ditutupi. Tidak ada lagi sekat-sekat pembatas sesama warga Negara Indonesia. Kegiatan seperti ini harus dirawat dan dikembangkan karena salah satu bentuk perjuangan yang sudah ditorehkan oleh Gus Dur yaitu merawat keberagaman. Maka kita sebagai generasi hari ini dan selanjutnya mempunyai kewajiban tersendiri untuk merawat kebinekaan itu. Hal yang sama jaga diungkapkan oleh bapak Frandy. Beliau mempunyai kesan yang sangat luar biasa dan penuh suka cita serta semangat kebersamaan serta semuanya menyambut dengan baik, dari Romo, DPP serta berharap kedepannya akan ada komunikasi dan koordinasi jika ada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan jaringan Gusdurian.
Stanis Kwen (Komsos Paroki Kristus Raja-Serang)

