Temu Sekami 2022: Besties Without Bullies 

Loading

KEUSKUPANBOGOR.ORG – Komisi Karya Kepausan Indonesia (selanjutnya disebut Komisi KKI) Keuskupan Bogor menggelar kegiatan Temu Sekami 2022 yang mengusung tema “Besties Without Bullies” pada hari Sabtu (20/8/2022) di Aula Magnificat Lantai 4 Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. 

Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dirayakan secara konselebrasi. Dipimpin oleh Monsinyur Paskalis Bruno Syukur, didampingi oleh RD Yosef Irianto Segu selaku Ketua Komisi KKI Keuskupan Bogor dan RD Marselinus Wisnu Wardhana selaku Sekretaris Jenderal Keuskupan Bogor. 

Mengenal Sekami 

Sekami merupakan akronim Serikat Kepausan Anak Remaja Misioner Indonesia. Sekami merupakan wadah berhimpun anak remaja Katolik di seluruh dunia untuk membangun iman dalam Yesus Kristus. Motto dari Sekami adalah “anak menolong anak (children helping children) dengan semangat dasar: Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian (2D2K). Dengan begitu, anak dapat membantu temannya lewat doa dan derma yang diberikan serta dapat menjadi sahabat bagi teman-temannya yang membutuhkan pertolongan. 

RD Yosef Irianto Segu dalam sambutannya mengatakan bahwa melalui kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini, para peserta yang terdiri dari para remaja Katolik yang berasal dari seluruh paroki di Keuskupan Bogor dapat mengenal apa itu Sekami dan dapat saling menjalin pertemanan dengan peserta lain yang hadir. Pastor Vikaris Parokial Paroki Hati Maria Tak Bernoda itu pun turut berpesan agar para peserta dapat menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, gembira, misioner dan berjiwa ekologis. 

Talkshow Bersama Psikolog Anak dan Remaja 

Masalah perundungan atau bullies merupakan masalah yang kerap dihadapi anak dan remaja. Hal tersebut menjadi perhatian di dalam kegiatan pada hari ini, maka dihadirkan dua orang Psikolog Anak dan Remaja yaitu Maria Hardono dan Inri Kurnia Almesa. 

Tema “Besties Without Bullies” dipilih agar anak dan remaja Keuskupan Bogor teredukasi mengenai hal tersebut. Maria Hardono mengatakan bahwa bullying atau perundungan dapat terjadi di sekitar kita, bahkan terjadi di diri kita sendiri atau mungkin diri kita sendiri lah yang melakukan perilaku perundungan kepada orang lain. Butuh pemahaman bahwa ada dampak psikologis yang ditimbulkan kepada orang yang dirundung secara terus menerus, yaitu risiko masalah kesehatan mental, stres, tidak percaya diri, nilai menurun dan dampak buruk lainnya. 

Maria Hardono dan Kurnia Inri Almesa pun berpesan kepada para peserta yang hadir untuk tidak melakukan perundungan dan seperti tema yang diambil, jadilah sahabat tanpa melakukan perundungan kepada yang lain. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!