KEUSKUPANBOGOR.ORG – Lebih dari seratus pasangan suami-istri yang telah menapaki usia perkawinan 15 hingga 25 tahun berkumpul di Aula Magnificat Lantai 4 Pusat Pastoral Keuskupan Bogor pada Sabtu (19/7) untuk mengikuti kegiatan Rekoleksi Pasutri Medior.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Keluarga Keuskupan Bogor sebagai bagian dari upaya mendampingi dan memperkuat kehidupan keluarga Katolik dalam rentang masa pernikahan yang penuh dinamika.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program tahunan Komisi Keluarga Keuskupan Bogor yang bertujuan memperkuat pastoral keluarga berdasarkan tahap-tahap hidup pernikahan. Selain rekoleksi untuk pasutri medior, Komisi Keluarga juga memfasilitasi kegiatan serupa bagi pasutri junior, dan pasutri senior.
Menurut RD Marselinus Wahyu Dwi Harjanto selaku Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor, rekoleksi ini merupakan upaya dari Komisi Keluarga untuk memfasilitasi serta menganimasi para pasutri berdasarkan tahap-tahap kehidupan pernikahan. Pasutri Junior dimoderatori oleh RD Yohanes Driyanto, Pasutri Medior dimoderatori oleh RD Alfonsus Sutarno, dan Pasutri Senior dimoderatori oleh Mgr Paskalis Bruno Syukur.

“Kegiatan rekoleksi ini akan diselenggarakan setiap tahun. Ini merupakan upaya Komisi Keluarga dalam menganimasi. Maka, semoga kegiatan serupa juga diadakan di tingkat-tingkat dekanat,” tutur Pastor Paroki Keluarga Kudus Cibinong tersebut.
Sesi Rekoleksi
Pasutri Medior merupakan mereka yang telah melewati fase awal pernikahan dan kini dihadapkan pada berbagai tantangan baru, mulai dari perubahan dalam relasi, perkembangan anak, hingga pergulatan iman dan panggilan hidup bersama. Menyadari pentingnya pendampingan di tahap ini, Komisi Keluarga menghadirkan RD Alfonsus Sutarno sebagai pembicara tunggal dalam rekoleksi ini.
Dalam sesinya yang bertajuk “Bertumbuh Dalam Harapan Bertahan Dalam Kasih”, Romo Tarno, begitu Ia disapa, mengajak para peserta rekoleksi untuk berdinamika bersama lewat pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar harapan serta pengalaman hidup yang dilalui dalam kehidupan berumah tangga.

“Setiap pasutri pasti memiliki harapan-harapan, baik sebelum perkawinan maupun pada saat menjalani kehidupan perkawinan,” ujar Dosen Universitas Katolik Parahyangan tersebut.
Romo Tarno secara bergantian menanyakan pasangan suami istri yang hadir sebagai peserta tentang harapan yang mereka miliki terhadap pasangannya masing-masing.


Merefleksikan jawaban-jawaban dari para peserta tersebut. Romo Tarno pun menyampaikan bahwa dalam perjalanan perkawinan, harapan-harapan itu ada yang dapat direalisasikan atau terabaikan. Bisa pula seiring dengan berjalannya waktu, harapan itu tidak lagi terasa penting di saat kini sehingga muncul harapan-harapan baru yang penting dan relevan.


“Sebelum menikah, masing-masing pribadi membawa harapan-harapan personal. Saat harapan-harapan ini tidak dibicarakan, maka bisa saja menimbulkan gesekan. Disinilah pentingnya membentuk harapan bersama yang disepakati dan diperjuangkan,” pesan Romo Tarno.
Rekoleksi berlangsung dalam suasana akrab dan mendalam. Selain sesi pemaparan, para peserta juga diajak untuk berdialog bersama pasangan, dan membagikan cerita pengalaman dalam perkawinan.













