Jangan Golput, Jadilah Pemilih yang Cerdas

Depok–keuskupanbogor.org: Menjelang Pemilu serentak 2019, banyak kegiatan dan sosialisasi tentang pemilu. Salah satunya pada Minggu, 17 Februari 2019 di Aula Paroki St Matias, Cinere, diadakan acara seminar sosialisasi Pilpres-Pileg 2019 dengan tema “Menjadi Pemilih yang Cerdas”.

Acara sosialisasi ini dihadiri oleh RD Dionysius Adi Tejo Saputra, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Bogor sekaligus moderator seminar, narasumber Trias Kuncahyono (Pembina Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia/ISKA), RD PC Siswantoko (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI), dan Prasetyo Nurhardjanto (Wakil Presidium ISKA Pusat).

Peserta terdiri dari OMK, serta perwakilan seksi kerawam paroki-paroki di Dekanat Utara. Hadir pula dalam kesempatan itu Hargo Mandiraharjo selaku Ketua Presidium ISKA Pusat, dan beberapa calon anggota legislatif dari DPR RI, DPR Provinsi, DPR Kebupaten/Kota, anggota PANWASLU,serta beberapa tokoh kemasyarakatan.

Seminar tersebut diadakan untuk menyasar kaum milenial Gereja, meskipun antusiame kalangan tersebut belum signifikan. Kaum muda akan menjadi penentu arah demokrasi Indonesia, terutama melalui pemilu serentak 2019.

Maka pada pertemuan ini, Trias Kuncahyono mengajak para milenial untuk cerdas, rasional, menggunakan akal sehat dalam menggunakan hak pilihnya. Jangan golput, karena menurutnya pemilu 2019 merupakan masa peralihan menuju pemilu 2024. Ia juga mengimbau kaum muda untuk menggunakan hati nurani dalam memilih orang baik, karena tahun ini adalah tahun pertarungan itu dimulai.

Setiap pemilih harus mengetahui dan mencari tahu tentang rekam jejak tiap calon pemimpinnya, juga partai apa yang mendukung calon tersebut. Hal ini terkait dengan ideologi partai dan pandangan partai tersebut terhadap Pancasila serta keutuhan NKRI. Menurut Trias, ada 5 hal yang mempengaruhi Pemilu saat ini, yaitu: Money Politics (Politik Uang), Muslim, Media Massa, Militer dan Masyarakat.

Jangan Jadi Orang Egois

Mengutip Paus Fransiskus, Pastor Siswantoko mengatakan bahwa politik itu merupakan perwujudan cinta kasih tertinggi. Pastor Koko, panggilan beliau, mengajak umat untuk berani memilih kandidat yang tidak ideal, atau minus malum. Dengan kata lain, kita tidak golput, melainkan memilih calon yang keburukannya paling sedikit dibandingkan dengan calon yang lain. Menurutnya, orang yang golput adalah orang yang egois karena tidak ikut memikirkan nasib sesama saudaranya.

Pada sesi berikutnya, Prasetyo mengungkapkan bahwa selain rekam jejak para calon legislatif, pemilih harus mempertimbangkan Parliamentary Threshold (PT) sebesar 4 persen. Angka ini menentuan masuk atau tidaknya perwakilan partai politik tersebut di parlemen (DPR RI). Sebagai penyeimbang, tentu saja kita membutuhkan partai oposisi. Fungsinya sebagai kontrol untuk mengawasi kinerja Presiden, karena jika semua berasal dari partai pendukung Presiden, maka negara ini akan seperti sebuah paguyuban.

Sementara itu, Hargo selaku ketua Presidium ISKA merasa bahwa kaum milenial saat ini besar kecenderungannya untuk golput, karena mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan tidak serius memikirkan nasib bangsa dan negara.Untuk itulah, ISKA mengajak anak muda milenial untuk bergabung di Sekolah Kebangsaan. Dalam program ini, anak-anak muda diberi pengajaran pengetahuan tentang politik, diajak untuk terlibat dan berperan aktif memikirkan nasib NKRI.

Di penghujung acara, Pastor Dion menegaskan, hendaknya setiap umat Katolik yang telah memiliki hak pilih dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik, jangan menjadi golput. Seperti halnya Yesus, Dia menjadi warga negara yang baik: ”Berikanlah apa yang menjadi hak Kaisar, dan berikan pula apa yang menjadi hak Allah.” Yesus tetap menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga, bahkan satu titik iota pun tidak dihilangkan. Kita pun memberikan suara kita dengan tepat agar tata kehidupan bangsa dan negara dapat menjadi lebih baik. (Aureliarani/MEKAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.