Fight’em With Kindness

Kamis, 10 Maret 2022

Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Bacaan         : Est. 4:10a,10c-12,17-19

Mazmur       : Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8

Bacaan Injil : Mat. 7:7-12

Setiap orang pasti ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Tidak ada seorang pun yang dengan sengaja memohon agar diperlakukan dengan buruk. Hal ini adalah sifat mendasar yang melekat pada manusia untuk mencari kenyamanan bagi dirinya. Sejak di dalam kandungan bayi menikmati kenyamanan bagi dirinya sendiri dalam hangat dan nyamannya perut seorang ibu, sehingga ketika dewasa pun ia pasti akan selalu berusaha mencari kenyamanan itu dengan membuat sendiri zona nyaman untuk dirinya sendiri dan mempertahankannya dengan segala cara. Sikap ini mengindikasikan bahwa sejak semula manusia itu sungguh mahkluk sosial, sekaligus mahkluk yang individual.  

Dalam injil hari ini Yesus ingin menyentuh sisi personal diri kita sebagai mahkluk sosial dan individual. Yesus mensyaratkan bagaimana setiap manusia harus menjalani hidup sebagai seorang pribadi di tengah sesama. Manusia sebagai mahkluk individual memiliki kehendak bebas untuk berbuat apa yang ia inginkan. Namun, kehendak bebas yang dilakukan itu haruslah dilakukan secara sadar dan dilihat manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain.

Matius 7:12 mengatakan “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Melalui pernyataan ini Yesus mengajak setiap dari kita untuk terlebih dahulu mencintai diri sendiri. Dengan mencintai diri sendiri, kita dapat menyadari dan memahami seperti apa diri kita ingin diperlakukan. Setelah mencintai diri sendiri, kita dapat mengerti arti sebenarnya dari cinta kasih sejati terhadap Tuhan yang diimplementasikan melalui sesama.

Sikap orang lain terhadap kita tidak dapat dipaksakan. Bisa saja kebaikan akan dibalas dengan kejahatan. Akan tetapi, Yesus sendiri telah memanggil kita semua untuk menebarkan kebaikan kepada semua orang tanpa terkecuali, seperti kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Dengan mampu mencintai diri sendiri, kita tidak perlu keluar dari zona nyaman karena perlakukan orang lain yang tidak sesuai ekspetasi kita, melainkan mampu melebarkan dan membawa zona nyaman kita kepada semua orang. Pada akhirnya setiap orang bisa merasakan kenyamanan yang sama melalui perbuatan baik yang kita tabur.

Fr. Jeremia Setiadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks