
Muntilan – Di tengah derasnya arus informasi dan produksi konten digital, para pelaku komunikasi ditantang untuk tidak berhenti pada kemampuan membuat konten yang menarik. Komunikasi, lebih dari itu, perlu menjadi ruang kreatif yang membantu manusia memahami kenyataan, menemukan makna, dan membayangkan kemungkinan baru bagi kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Romo Doktor Fransiskus Wawan Setyadi, Dosen Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Sesi 3 di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/08/2026).
Dalam pemaparannya, Romo Wawan mengajak peserta melihat kembali peran imajinasi dalam kehidupan manusia dan karya komunikasi. Menurutnya, imajinasi bukan sekadar kemampuan untuk berkhayal atau menjauh dari kenyataan. Sebaliknya, imajinasi memungkinkan manusia melihat kenyataan dengan cara baru dan menemukan berbagai kemungkinan yang belum terwujud.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman hidup sehari-hari sesungguhnya telah memiliki unsur-unsur sebuah cerita. Dalam kehidupan manusia selalu ada tujuan, tindakan, perjumpaan, persoalan, dan berbagai peristiwa yang saling berkaitan. Semua pengalaman itu dapat menjadi bahan bagi lahirnya sebuah narasi.
Namun, pengalaman tidak serta-merta menjadi sebuah karya yang bermakna. Di sinilah imajinasi dan kreativitas bekerja. Seorang kreator, menurut Romo Wawan, tidak hanya menyalin kenyataan, tetapi mengolah berbagai pengalaman dan menemukan hubungan baru di antara peristiwa-peristiwa tersebut.
Imitasi itu bukan sekadar copy paste. Imajinasi yang kreatif justru dapat mendorong kita pada apa yang disebut sebagai augmentasi realitas, yakni membuka kemungkinan-kemungkinan baru,” kata Romo Wawan.
Ia menggunakan gagasan tentang mimesis untuk menjelaskan proses tersebut. Dalam pemikiran filsuf Paul Ricoeur, kehidupan dan karya naratif dapat dipahami sebagai sebuah proses yang bergerak dari pengalaman hidup, pengolahan pengalaman menjadi cerita atau karya, hingga perjumpaan karya itu dengan pembaca atau penontonnya.

Proses terakhir menjadi penting karena sebuah karya tidak berhenti ketika selesai dibuat. Karya menemukan kehidupan baru ketika diterima dan dimaknai oleh orang lain. Sebuah cerita, film, tulisan, atau karya komunikasi dapat kembali memasuki kehidupan seseorang dan, dalam kondisi tertentu, mengubah cara orang tersebut memandang dirinya maupun dunia.
Meski demikian, Romo Wawan mengingatkan bahwa tidak setiap karya akan memberikan pengaruh yang sama kepada setiap orang. Tidak semua cerita langsung menghasilkan perubahan. Namun, hal itu tidak boleh membuat para kreator berhenti menghadirkan karya yang bermakna.
“Tidak setiap pembacaan akan memberikan efek yang sama. Tetapi kalau ada satu atau dua karya yang mampu membawa seseorang pada perubahan, itu sudah menjadi alasan bagi kita untuk terus berusaha membuat karya yang memikat dan menantang,” ujarnya.
Imajinasi Perlu Diisi dengan Pengalaman
Menurut Romo Wawan, kemampuan berimajinasi tidak tumbuh dari ruang kosong. Imajinasi dibentuk oleh pengalaman, cerita, bacaan, perjumpaan, dan berbagai hal yang dialami manusia sepanjang hidupnya.
Karena itu, karya sastra, seni, dan cerita memiliki peran penting dalam memperluas cara manusia memahami kehidupan. Melalui sebuah cerita, seseorang dapat memasuki pengalaman yang mungkin tidak pernah dialaminya secara langsung.
Dalam konteks komunikasi, kekayaan pengalaman itu menjadi modal penting. Seorang komunikator tidak cukup hanya menguasai perangkat atau teknologi, tetapi juga perlu memiliki kepekaan terhadap kehidupan di sekitarnya.
Romo Wawan memberi contoh bagaimana berbagai peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat dihubungkan dan diolah menjadi sebuah narasi. Kreativitas, menurutnya, sering kali bukan lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan dari kemampuan melihat hubungan di antara berbagai kenyataan yang sebelumnya tampak terpisah.
Melampaui Keinginan Mengejar Pengikut
Tantangan tersebut menjadi semakin relevan dalam era media digital. Kemudahan teknologi memungkinkan siapa saja memproduksi dan menyebarkan konten dalam waktu singkat. Namun, Romo Wawan mengingatkan agar karya komunikasi tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mengikuti tren atau mengejar sebanyak mungkin pengikut.
Ia mengajak para peserta untuk tetap membuat konten, tetapi dengan kesadaran yang lebih mendalam mengenai nilai dan makna yang ingin ditawarkan.
“Jangan membuat konten hanya karena latah atau sekadar ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya. Konten itu harus menawarkan roh tertentu, sesuatu yang lahir dari imajinasi kreatif dan produktif,” tegasnya.
Menurutnya, kreativitas juga tidak berarti kebebasan tanpa batas. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam setiap karya komunikasi, yakni nilai etis dan konteks.
Sebuah karya, katanya, tidak pernah benar-benar bebas nilai. Cara seseorang memilih cerita, menggambarkan tokoh, atau menampilkan sebuah persoalan selalu berkaitan dengan pandangan tertentu tentang kehidupan. Karena itu, karya komunikasi perlu mempertimbangkan nilai-nilai etis yang hendak dibawa kepada masyarakat.
Selain nilai etis, konteks juga menjadi penting. Pesan yang kreatif harus tetap dapat dipahami oleh orang-orang yang menjadi sasaran komunikasi. Bahasa yang terlalu rumit atau simbol yang terlalu jauh dari pengalaman masyarakat justru dapat membuat pesan kehilangan daya jangkaunya.
Berani Bermimpi tentang Masa Depan
Dalam bagian lain pemaparannya, Romo Wawan mengangkat gagasan tentang utopia sebagai bagian penting dari imajinasi manusia. Utopia, menurutnya, tidak harus dipahami sebagai khayalan tentang dunia sempurna yang tidak mungkin diwujudkan. Utopia dapat menjadi “ruang mimpi” yang memungkinkan manusia melihat berbagai kemungkinan lain bagi kehidupan bersama.
“Ruang mimpi itu bukan ruang untuk melarikan diri dari kenyataan. Kita tetap berada dalam kehidupan yang sama, tetapi kita berani memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat melampaui apa yang sudah terjadi,” katanya.
Dengan imajinasi kreatif, manusia dapat bertanya tentang masa depan Gereja, masyarakat, dan kehidupan bersama. Pertanyaannya bukan semata-mata apa yang sedang terjadi saat ini, tetapi juga apa yang dapat dilakukan agar kehidupan menjadi lebih baik.
Namun, mimpi tentang masa depan itu tetap membutuhkan pijakan pada kenyataan dan nilai-nilai etis. Imajinasi tidak dimaksudkan untuk membuat manusia mengabaikan persoalan yang ada, melainkan memberikan keberanian untuk mencari jalan keluar dan kemungkinan baru.
Romo Wawan juga menekankan pentingnya komunikasi yang mampu memadukan sikap kritis dan harapan. Komunikasi perlu berani melihat persoalan dan membongkar berbagai bentuk kepura-puraan. Namun, kritik tidak boleh membuat manusia berhenti dalam kekecewaan. Sebaliknya, komunikasi juga perlu menawarkan harapan dan membantu manusia menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan.

Karya yang Memberi Kehidupan
Pada akhirnya, Romo Wawan mengajak para pelaku komunikasi untuk memandang karya mereka bukan semata-mata sebagai produk informasi. Sebuah karya dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman manusia, imajinasi, nilai, dan harapan.
Tugas komunikasi, karena itu, bukan hanya memenuhi ruang digital dengan semakin banyak konten, melainkan menghadirkan karya yang membantu manusia melihat kehidupan secara lebih mendalam. “Yang kita butuhkan adalah karya yang menawarkan cara hidup dan cara memandang kehidupan yang lebih baik dan lebih bernilai,” ungkapnya.
Melalui imajinasi, sebuah pengalaman sederhana dapat menjadi cerita. Cerita dapat menjadi karya. Dan karya, ketika berjumpa dengan orang lain, dapat membuka kemungkinan lahirnya cara baru untuk memahami kehidupan.Pesan itulah yang menjadi tantangan bagi para peserta TOT: berani keluar dari kebiasaan sekadar membuat konten dan mulai membangun komunikasi yang memiliki makna, kepekaan terhadap kenyataan, serta keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik.
Sebab, seperti ditekankan Romo Wawan, imajinasi bukanlah pelarian dari kenyataan. Imajinasi justru merupakan kemampuan manusia untuk melihat dunia apa adanya, menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, dan mengambil bagian dalam usaha mewujudkannya.
Penulis : Gabriel Abdi Susanto
