Mendengarkan Suara-Nya

Selasa, 5 Mei 2020

Hari Biasa Pekan Paskah IV

Bacaan I          : Kis. 11: 19-26

Bacaan Injil     : Yoh. 10: 22-30
Di suatu desa, hiduplah seorang kakek dengan seekor anjingnya. Sang kakek sangat menyayangi anjing itu karena selalu menemani ke mana kakek itu pergi. Suatu ketika, kakek sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Anjing itu pun mengikuti kakek dan sesekali mendahului kakek. Ketika kakek sedang memotong kayu untuk dijadikan kayu bakar, anjing itu pergi, entah ke mana. Kakek pun berpikir bahwa anjing itu mungkin hanya pergi sebentar. Selesai memotong, kakek langsung mengikat kayu itu dan menjadikannya satu untuk digotong dan dibawa pulang. Setiba di rumah kakek itu mulai gelisah karena anjing kesayangannya tidak kunjung kembali. Ketika malam tiba, kakek memutuskan untuk mencari anjing itu dengan berbekal senter untuk menerangi jalan. Di tengah perjalanan tiba-tiba kakek mendengar gonggongan anjing dan tiba-tiba kakek langsung dipeluk oleh anjing itu. Kakek pun bahagia karena anjing itu masih mengenali dia, dan kakek berani mempertaruhkan dirinya untuk mencari anjing kesayangannya.

Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang kembali menegaskan hubungan antara Dia dengan murid-murid-Nya, dengan pengikut-Nya. Orang Yahudi yang mempertanyakan tentang ‘kemesiasan’ Yesus karena mereka merasa bahwa kehadiran Yesus tidak mengubah kebimbangan yang ada pada diri mereka. Yesus pun mengatakan bahwa apa yang dilakukan-Nya sebagai karya Bapa. Tetapi tetap saja mereka tidak percaya. Untuk itulah Yesus mengatakan bahwa ketika ada orang yang tidak percaya dengan apa yang sudah diperbuat-Nya, orang-orang itu bukanlah termasuk domba-domba Yesus, bukan termasuk para pengikut Yesus (Yoh. 10: 26). Tetapi ketika Yesus dan domba mengenal satu sama lain di situlah hubungan antara Sang Gembala dengan domba yang memberikan kehidupan. Kita mendengar suara Yesus dan Yesus mengenal kita sebagai  domba-Nya.

Dalam kehidupan kita, seringkali kita mendengar bisikan-bisikan. Tidak jarang juga kita justru mendengar suara-suara yang sering membuat kita tidak bisa fokus untuk mendengar suara Yesus dan datang kepada-Nya. Dering handphone mungkin terdengar lebih nyaring dan menarik dibandingkan dengan suara Tuhan yang memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Suara itu memanggil kita untuk melaksanakan doa-doa kita, mengikuti perayaan ekaristi, membantu sesama kita, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kita justru memilih suara lain yang justru menawarkan jalan yang sesat. Apakah kita mau seperti orang-orang Yahudi yang terus-menerus mempertanyakan di mana Yesus, di mana Sang Mesias, padahal kita sendiri memilih untuk mendengarkan suara yang bukan dari Tuhan? Inilah yang harus kita renungkan. Terutama pada situasi saat ini. Apakah Tuhan mengajarkan kita untuk semakin egois? Atau apakah Tuhan sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk saling membantu, saling bekerja sama untuk mengakhiri pandemik ini? Kita yang menentukan. Hanya domba-Nya yang dapat mendengarkan Dia dan ketika itu, Ia bahkan rela menyerahkan diri-Nya untuk menderita bagi domba-Nya.

[Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]


Allah Bapa yang Mahakuasa, bantulah kami untuk selalu mendengarkan apa yang Engkau kehendaki bagi kami. Kuatkan kami untuk selalu bertahan pada pengajaran yang Putra-Mu berikan kepada kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: