“Barangsiapa Menerima Orang yang Kuutus, Ia Menerima Aku”

Kamis, 7 Mei 2020 

Hari Biasa Pekan Paskah IV

Bacaan 1         : Kis. 13:13-25

Mazmur           : Mzm. 89:2-3,21-22,25,27

Injil            : Yoh. 13:16-20

 

Di zaman yang memungkinkan informasi diterima dengan cepat, kita mengetahui bahwa banyak orang berlomba-lomba melakukan perbuatan baik. Bakti sosial yang dilakukan oleh beberapa pihak, dari politisi maupun orang muda, dengan mudah kita ketahui. Orang-orang tersebut melakukan perbuatan yang mulia, yaitu menolong sesama. Tetapi dengan cepatnya informasi yang diterima membuat perbuatan baik tersebut jatuh kepada hal ‘pencitraan’. Pencitraan yang membuat orang tersebut tidak ingin melakukan perbuatan baik jika tidak ada media yang meliput atau dokumentasi yang bisa di unggah di media sosial. Pencitraan yang mampu ‘menjual’ perbuatan kasih dan hal-hal yang berkaitan dengan status sebagai utusan-Nya untuk keuntungan pribadi. Pertanyaan selanjutnya yang dapat direnungkan adalah: perbuatan kasih seperti apa yang sungguh-sungguh mencerminkan diri sebagai utusan-Nya?

Perkataan Yesus yang menjadi judul dari renungan ini menjadi pesan yang berharga untuk kita. Kita sebagai murid-murid-Nya diberikan pesan untuk menyebarkan kasih kepada sesama. Pesan ini menjadi pengingat bahwa perbuatan kasih sungguh-sungguh diterima orang ketika kita mencerminkan diri sebagai utusan-Nya. Perbuatan baik yang sungguh-sungguh berasal dari Dia membuat apa yang menjadi pembatas-pembatas seperti suku, agama, ras dan antargolongan menjadi kabur. Perbuatan baik yang berasal dari Dia memanusiakan manusia baik yang ditolong maupun yang menolong. Perbuatan baik membuat yang ditolong menjadi manusia karena dikasihi serta dijaga martabatnya dan membuat yang menolong sadar bahwa apa yang diterima hendaknya dibagikan kepada sesama. Ingatlah bahwa segala perbuatan baik kita bukan semata-mata demi kita, tetapi demi kemuliaan Allah yang Maha besar.

Kita pun bisa berbuat baik mulai dari di lingkungan rumah sendiri. Fenomena di rumah saja membuat kita lebih bisa memperhatikan hal-hal yang berada di dekat kita, hal-hal yang mungkin kita abaikan karena kesibukan kita sehari-hari. Jadilah utusan-Nya mulai dari rumah sendiri, jadilah utusan-Nya untuk keluarga sendiri, jadilah percikan-percikan yang dibutuhkan untuk menghidupkan apa yang selama ini diabaikan. Tak lupa juga senantiasa ingat kepada-Nya yang mengutus kita, karena kita hanyalah perpanjangan tangan-Nya untuk menolong sesama kita. Dengan demikian, perbuatan baik kita senantiasa dimurnikan dan kita layak untuk menjadi utusan-Nya. 

[Fr. Michael Randy]


Allah Bapa yang Maha Pengasih, murnikanlah hati kami agar perbuatan baik kami benar-benar berasal tulus sebagai perpanjangan tangan-Mu. Semoga kami Engkau layakkan sepanjang waktu untuk menjadi utusan-Mu. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.