‘Ia Mengajar dan Banyak Orang Mendengarkan’

Jumat, 05 Juni 2020

Pekan Biasa IX

Pw S. Bonifasius, Uskup, Martir.

Bac I      :  2Tim. 3:10-17

Mzm.       :  119:157.160.161.165.166.168

Bac. Injil.:  Mrk. 12:35-37

 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, semasa kecil dan masih sekolah, kita sudah diajarkan bagaimana mendengarkan dengan baik. Di sekolah, kita diajarkan untuk menghargai orang lain: khususnya orang tua dan guru yang sedang berbicara. “Duduk manis, melipat tangan, tidak berbicara (berisik), buka kupingnya lebar-lebar, memperhatikan dan siap mendengarkan” rasanya wejangan yang selalu kita dengar. Namun, di masa remaja hingga dewasa, terkadang kita menjadi malas untuk mendengarkan orang lain. Kita cenderung memperhatikan diri sendiri saja.

Kedua bacaan hari ini ingin berpesan kepada kita bahwa Tuhan akan senantiasa mengajar yang baik. Karena itu, sikap yang dibutuhkan adalah sikap ‘mendengarkan’ yang berujung pada tindakan mengikuti dan melakukan apa yang diajarkan. Yesus sungguh memberikan bukti cinta-Nya kepada manusia sebagai teladan untuk berbuat baik. Ajarannya itu menjadi nyata dalam perbuatan. Ia menunjukkan kebenaran yang pantas untuk diikuti. Melalui teladan Santo Bonifasius yang kita peringati pada hari ini juga membuat kita yakin bahwa kebenaran itu hendak diperjuangkan dalam karya dan pelayanan kita dalam hidup menggereja.

Pertanyaan reflektifnya: Apakah kita juga mau mendengarkan sesama sebagai bentuk mendengarkan Tuhan? Atau kita cenderung selalu melihat bahwa diri sendirilah yang paling baik dan benar? Lalu, apakah kita takut untuk berbuat benar hanya karena akan disalahkan?

Ada jawaban menarik dari bacaan pertama dari 2Kor 3:14 yakni ‘Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu’. Paulus mengingatkan kita betapa pentingnya kebenaran lewat pengajaran-pengajaran para rasul. Di jaman sekarang, ajaran Yesus juga kita terima lewat sesama kita. Maka, kita hendaknya memohon kehadiran Roh Kudus untuk membuka diri akan hal itu. Di lain pihak, kita pun dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menyampaikan kebenaran dan Kabar Sukacita itu.

[Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara]

Allah sumber kebenaran, terima kasih karena sampai saat ini kami boleh menikmati segala kebaikan-Mu di dunia ini. Kami bersyukur atas orang-orang baik yang ada di sekitar kami. Kami juga percaya bahwa Engkau pun mengajak kami untuk selalu berada dalam jalan yang benar. Untuk itu, sadarkanlah dan buatlah kami agar lebih peka terhadap segala yang baik agar kami pun benar seperti yang Engkau ajarkan. Terpujilah NamaMu, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: