
Rangkasbitung, 6 September 2026 — Kitab Suci tidak hanya dibaca di dalam gereja. Sabda Tuhan juga perlu hadir di tengah keluarga, dibaca bersama, direnungkan, didoakan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang mewarnai Family Bible Day, kegiatan satu hari bersama Kitab Suci yang diselenggarakan Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026.
Mengangkat tema “Keluarga Sinodal Lahan Subur untuk Benih Firman Tuhan”, kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 6 September 2026, pukul 10.00–15.00 WIB tersebut menjadi salah satu bentuk konkret penghayatan tema Tahun Pastoral Keuskupan Bogor 2026, “Membangun Keluarga Sinodal yang Menciptakan Misi Pengharapan dan Perdamaian.”
Sebanyak 173 peserta keluarga Katolik hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka berasal dari berbagai kelompok umat, mulai dari calon penerima Komuni Pertama dan keluarga, Misdinar St. Tarsisius, OMK St. Yosef, peserta Emmaus Journey, Emauser, kelompok kategorial Simeon-Hana, WKRI Cabang Rangkasbitung, hingga umat Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung secara umum.
Kehadiran peserta dari berbagai kelompok usia membuat kegiatan ini terasa istimewa. Anak-anak, remaja, orang muda, orang dewasa, hingga umat lanjut usia berkumpul dalam satu ruang untuk melakukan hal yang sama: membaca dan mendengarkan Sabda Tuhan bersama.

Dari Keluarga, Benih Firman Tuhan Ditaburkan
Family Bible Day dilaksanakan oleh Bidang Pendampingan Iman Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung melalui Seksi Kerasulan Kitab Suci. Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan iman.
Keluarga bukan hanya tempat pertama seorang anak belajar berbicara, berperilaku, dan mengenal kehidupan. Keluarga juga menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal Tuhan dan mengalami iman.
Karena itu, kegiatan Family Bible Day tidak berhenti pada kegiatan membaca Kitab Suci. Para peserta diajak untuk mengalami proses yang lebih utuh: membaca, memahami, merenungkan, menemukan pesan Firman Tuhan, dan kemudian mengungkapkannya dalam bentuk doa.
Harapannya, pengalaman tersebut dapat diteruskan di rumah sehingga Kitab Suci tidak hanya dibuka ketika ada kegiatan lingkungan atau kegiatan gerejani, tetapi menjadi bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari.
Belajar Membaca Kitab Suci dengan Cara yang Sederhana

Kegiatan menghadirkan Yohanes Mikael Seto Marsunu, M.Th. sebagai narasumber. Seto Marsunu merupakan staf Unit Naskah Lembaga Biblika Indonesia (LBI) sejak tahun 2000. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 Filsafat-Teologi di STFT Widya Sasana, Malang, serta Strata 2 Teologi Biblis di St. Peter’s Pontifical Institute, Bangalore, India.
Ia juga aktif mengajar di Kursus Pendidikan Kitab Suci St. Paulus di Jakarta dan Tangerang, Kursus Pendidikan Kitab Suci St. Yohanes Penginjil di Bogor, serta berbagai kursus Kitab Suci yang diselenggarakan di sejumlah paroki dan keuskupan.
Dalam sesi pertama, Seto Marsunu mengajak peserta memahami cara membaca Kitab Suci secara sederhana dan mudah dipraktikkan. Peserta tidak hanya diajak mengetahui isi sebuah perikop, tetapi juga belajar menemukan pesan yang dapat menyentuh kehidupan mereka.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta adalah praktik membuat doa berdasarkan Firman Tuhan.
Melalui proses tersebut, peserta diajak melihat hubungan antara Firman Tuhan, refleksi pribadi, dan doa. Firman yang dibaca tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diharapkan menjadi Sabda yang berbicara dan menyentuh kehidupan setiap anggota keluarga.

Antusiasme peserta semakin terasa ketika kegiatan memasuki sesi praktik. Para peserta diajak membaca Kitab Suci, melakukan pendalaman, menyampaikan refleksi, dan membuat doa berdasarkan bacaan yang telah direnungkan.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang menunjukkan antusiasme besar. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan hasil refleksi dan membacakan doa yang telah mereka susun.
Momen tersebut memperlihatkan bahwa pendalaman Kitab Suci tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Ketika diberikan ruang untuk membaca, berpikir, berbicara, dan berdoa, anak-anak pun dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan iman.
Bagi keluarga, pengalaman semacam ini menjadi penting. Anak belajar bahwa iman bukan hanya sesuatu yang diajarkan oleh orang tua atau guru agama, melainkan sesuatu yang dapat dialami dan diungkapkan bersama.
“Keluarga Menjadi Lahan yang Subur”
Dalam sambutannya, Husindjaja Bunadi, Ketua Panitia sekaligus Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung, menegaskan bahwa kegiatan Family Bible Day merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan tema pastoral Keuskupan Bogor, khususnya dalam semangat Tahun Keluarga.
Keluarga-keluarga di Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung diharapkan menjadi lahan yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya Firman Tuhan.
Gambaran tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pertumbuhan iman membutuhkan proses. Benih tidak langsung menjadi pohon yang menghasilkan buah. Ia harus ditanam, dirawat, disiram, dan diberi perhatian.
Demikian pula iman dalam keluarga. Iman perlu ditanam sejak anak-anak, dirawat melalui keteladanan orang tua, diperkuat melalui doa dan kebersamaan, kemudian terus dikembangkan sepanjang perjalanan hidup.
Dari anak-anak, remaja, OMK, orang dewasa hingga lanjut usia, seluruh perjalanan kehidupan tersebut diharapkan tetap menjadi perjalanan iman bersama.

Ketika Keluarga Berjalan Bersama
Semangat sinodal dalam kegiatan ini tidak hanya tampak dalam tema, tetapi juga dalam cara umat hadir dan berproses bersama. Ayah, ibu, dan anak duduk bersama. Mereka membaca Kitab Suci, mendengarkan penjelasan, melakukan refleksi, dan berdoa. Berbagai kelompok kategorial yang selama ini memiliki kegiatan masing-masing pun bertemu dalam satu kegiatan yang berpusat pada Firman Tuhan.
Inilah salah satu wajah keluarga sinodal: berjalan bersama dan mendengarkan Sabda Tuhan bersama.
Dalam konteks tersebut, Kitab Suci menjadi ruang perjumpaan. Perbedaan usia, pengalaman, dan latar belakang tidak menjadi penghalang. Justru melalui kebersamaan, setiap anggota keluarga dapat belajar saling mendengarkan dan menemukan bagaimana Firman Tuhan berbicara dalam kehidupan mereka.
Dukungan OBOR dan Kanisius
Family Bible Day juga mendapat dukungan dari Toko Buku dan Benda Rohani OBOR serta Penerbit KANISIUS. Keduanya menghadirkan buku-buku dan benda-benda rohani yang dapat diperoleh umat di halaman gereja.
Kehadiran stan buku tersebut melengkapi semangat kegiatan. Umat tidak hanya diajak untuk mengikuti workshop, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menemukan berbagai bahan bacaan yang dapat membantu pertumbuhan iman di rumah.
Dengan demikian, semangat mencintai Kitab Suci diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat dilanjutkan melalui kebiasaan membaca dan mempelajari Sabda Tuhan secara pribadi maupun bersama keluarga.
Tetap Bertahan di Tengah Kondisi Udara yang Kurang Mendukung
Pelaksanaan Family Bible Day berlangsung di tengah kondisi udara di luar gereja yang kurang mendukung akibat debu vulkanik yang dilaporkan berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat peserta. Dari awal hingga akhir kegiatan, umat tetap mengikuti rangkaian acara dengan antusias.
Hingga kegiatan berakhir, para peserta tetap bertahan dan mengikuti seluruh proses. Situasi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bahwa semangat untuk belajar dan bertumbuh dalam iman dapat tetap dijaga di tengah berbagai keadaan.
Membawa Pulang Firman untuk Dihidupi
Family Bible Day akhirnya bukan sekadar kegiatan satu hari. Yang diharapkan justru adalah apa yang terjadi setelah kegiatan berakhir.
Para peserta diajak membawa pulang pengalaman tersebut ke dalam keluarga masing-masing: membuka Kitab Suci, membaca bersama, berbicara mengenai Firman Tuhan, membuat doa, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutan penutup, Pastor RD. Antonius Garbito Pamboaji, selaku Pastor Pendamping Bidang Pendampingan Iman Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung, menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat dan keluarga yang telah hadir, kepada narasumber, serta seluruh Tim Kerja Seksi Kerasulan Kitab Suci yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjadi keluarga sinodal yang bersama-sama menghadirkan Kristus dalam hidup dan kehidupan.
Keluarga Katolik diharapkan terus bertumbuh dalam iman, berkembang dalam kehidupan, dan berbuah dalam pelayanan, baik di dalam keluarga, lingkungan maupun Gereja.
Pesan tersebut menjadi penutup yang sekaligus membuka sebuah perjalanan baru. Family Bible Day mungkin telah berakhir di gereja, tetapi perjalanan bersama Firman Tuhan justru diharapkan dimulai kembali di rumah.
Sebab keluarga yang setiap hari membuka ruang bagi Sabda Tuhan adalah keluarga yang sedang menyiapkan tanah bagi benih iman untuk tumbuh.
Dan ketika benih itu tumbuh serta berbuah, buahnya bukan hanya dirasakan oleh keluarga itu sendiri, tetapi juga dapat menjadi pengharapan, kasih, perdamaian, dan berkat bagi Gereja serta masyarakat.
MS | 19 September 2026
